INKLUSI LOGO Full Color Stacked - English

Media Nasional dan Lokal Melihat Praktik Pembangunan Inklusif di Lombok Timur

Lombok Timur, 10 Juni 2026 — Sejumlah jurnalis dari media nasional dan lokal mengunjungi Desa Kembang Kerang, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, untuk melihat secara langsung kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan organisasi masyarakat sipil dalam mendorong pembangunan yang lebih inklusif.

Kegiatan ini diikuti oleh Kompas, Liputan6.com, IDN Times, Suara NTB, Tribun Lombok, dan Lombok Post. Desa Kembang Kerang merupakan salah satu lokasi pelaksanaan Kemitraan Australia–Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif (INKLUSI), yang dijalankan oleh Yayasan BaKTI bersama mitra lokalnya, Lombok Research Center (LRC).

Melalui INKLUSI, BaKTI dan LRC bekerja di 15 desa di Kabupaten Lombok Timur untuk memperkuat partisipasi kelompok rentan dan marginal dalam pengambilan keputusan, memperluas akses terhadap perlindungan sosial dan layanan penanganan kekerasan, serta mendukung pemberdayaan ekonomi.

Para jurnalis juga berdiskusi dengan anggota Kelompok Konstituen Saiq Angen, ruang bagi perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya untuk menyampaikan persoalan, mengakses layanan pemerintah, serta terlibat dalam pengambilan keputusan di tingkat desa.

Kelompok Konstituen juga mengelola pos pengaduan berbasis masyarakat. Melalui pos ini, warga dapat memperoleh informasi, pendampingan awal, dan rujukan ke layanan pemerintah, termasuk untuk penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta pencegahan perkawinan anak.

Bergerak Cepat Melindungi Anak

Ketua Kelompok Konstituen Saiq Angen, Lasmini, mengatakan setiap laporan yang diterima segera ditindaklanjuti, khususnya yang berkaitan dengan perkawinan anak.

“Kasus perkawinan anak tidak bisa ditunda. Begitu kami menerima laporan, kami langsung bergerak,” ujarnya.

Kelompok Konstituen kemudian berkoordinasi dengan pemerintah desa, tokoh agama, dan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk memastikan anak memperoleh perlindungan yang tepat.

Konsul Jenderal Australia di Bali, Jo Stevens, mengapresiasi kolaborasi masyarakat, pemerintah desa, dan organisasi masyarakat sipil melalui Program INKLUSI. Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan di tingkat desa, tetapi juga mendorong penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.

“Kelompok-kelompok tersebut pada gilirannya bekerja untuk mengidentifikasi masalah di tingkat desa, mengadvokasi solusi, serta pemberdayaan ekonomi bagi kelompok rentan, termasuk perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, dan lainnya,” katanya.

Dukungan pemerintah desa menjadi bagian penting dalam menerjemahkan aspirasi warga ke dalam kebijakan dan perencanaan pembangunan. Selama menjabat sebagai Kepala Desa Kembang Kerang, Yahya Putra mendukung keterlibatan Kelompok Konstituen serta upaya memperluas akses perempuan dan kelompok rentan terhadap perlindungan sosial dan layanan dasar.

“Penanganan kasus perkawinan anak tidak bisa dilakukan sendiri. Semua pihak harus bekerja sama agar anak bisa terlindungi,” kata Yahya, yang baru saja menyelesaikan periode kepemimpinannya di desa.

Ia mencontohkan satu kasus perkawinan anak yang berhasil dicegah melalui kerja sama pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan pihak terkait. Kolaborasi tersebut memungkinkan anak kembali tinggal bersama keluarganya dan memperoleh perlindungan.

Membuka Peluang Ekonomi bagi Perempuan

Selain melihat kegiatan Kelompok Konstituen, para jurnalis mengunjungi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mart Bina Sejahtera yang memasarkan berbagai produk lokal warga Desa Kembang Kerang. Kunjungan kemudian dilanjutkan ke kelompok usaha yang dipimpin Haeriah, yang memproduksi keripik pisang dan beragam makanan olahan.

Usaha yang dirintis Haeriah sejak 2018 ini tidak hanya menambah pendapatan keluarga, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi perempuan lain di desa. Melalui INKLUSI, kelompok usaha tersebut memperoleh dukungan dalam pencatatan keuangan, pengurusan legalitas, dan perluasan akses pasar.

“Program ini membantu usaha saya tumbuh lebih baik,” ujar Haeriah.

Ia berharap dapat memiliki rumah produksi yang lebih besar agar kapasitas usaha meningkat dan semakin banyak perempuan di sekitarnya memperoleh peluang kerja.

BUMDes Mart turut mendukung usaha Haeriah dengan membeli dan memasarkan produknya bersama hasil usaha warga lainnya. Direktur BUMDes Bina Sejahtera, Niswan, mengatakan produk-produk tersebut dipasarkan kepada masyarakat maupun pengunjung desa.

Kunjungan lapangan ini menunjukkan bahwa inklusi tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan. Inklusi juga dibangun melalui partisipasi masyarakat, layanan yang dipimpin komunitas, dan peluang ekonomi yang menjawab kebutuhan sehari-hari. Kembang Kerang menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan organisasi masyarakat sipil dapat mendorong pembangunan yang lebih responsif, setara, dan inklusif.

Icon Inklusi