
Pagi di Desa Selebung Ketangga, Lombok Timur, dimulai dengan pembagian tugas di sebuah kandang kecil. Sebagian orang menyiapkan pakan, sebagian lagi membersihkan kandang, sementara yang lain memeriksa kambing yang mereka pelihara bersama.
Kandang itu hanya berkapasitas lima ekor kambing. Namun, di sanalah anggota Kelompok Swabantu atau Self-Help Group (SHG), yang terdiri atas penyandang disabilitas dan anggota keluarga mereka, belajar menjalankan usaha bersama: menentukan pembagian kerja, merawat ternak, mengelola hasil, dan menyelesaikan persoalan yang muncul.
“Kami memilih usaha ternak kambing karena sudah dikenal masyarakat dan sesuai dengan kondisi desa. Pakan juga bisa diperoleh dari lingkungan sekitar,” ujar Sahrul, Ketua SHG Desa Selebung Ketangga.
Menurutnya, usaha tersebut juga memungkinkan lebih banyak anggota terlibat.
“Pengelolaannya bisa dilakukan bersama, mulai dari merawat ternak hingga mengolah limbah. Perempuan maupun laki-laki dapat mengambil bagian.”
SHG merupakan kelompok dukungan berbasis komunitas yang diinisiasi oleh Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM), salah satu mitra INKLUSI. Di Lombok Timur, PRYAKKUM bersama mitra lokalnya, LIDI Foundation, mendampingi kelompok yang beranggotakan penyandang disabilitas, khususnya orang dengan disabilitas psikososial, dan keluarga mereka.

Kelompok ini menjadi ruang untuk saling mendukung, mengakses layanan, mengembangkan penghidupan, dan terlibat dalam pengambilan keputusan di desa. Usaha peternakan kambing merupakan salah satu gagasan yang lahir dari diskusi para anggota. Mereka memilihnya dengan mempertimbangkan pengetahuan yang telah dimiliki masyarakat, kondisi lingkungan, serta sumber daya yang tersedia. Pembagian tugas juga disepakati bersama berdasarkan kemampuan, minat, dan kondisi setiap anggota.
Setelah rencana usaha disusun, anggota SHG membawanya kepada pemerintah desa. Gagasan tersebut mendapat dukungan dari pemerintah desa dan Dinas Peternakan Kabupaten Lombok Timur. Dinas Peternakan kemudian memberikan arahan teknis dan menjadi tempat berkonsultasi mengenai pengelolaan ternak.
Pada Februari 2025, para anggota membangun kandang percontohan secara bergotong royong. Kandang itu selesai dalam tiga hari. Sejak saat itu, mereka mulai belajar langsung—bukan hanya tentang pakan dan kesehatan ternak, tetapi juga tentang cara mengelola sebuah usaha secara kolektif.
Dari Rumah ke Ruang Pertemuan
Sebelum SHG terbentuk, banyak penyandang disabilitas di Desa Selebung Ketangga jarang terlibat dalam kegiatan masyarakat. Stigma, keterbatasan akses, dan sedikitnya ruang partisipasi membuat sebagian dari mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Pertemuan-pertemuan SHG perlahan mengubah situasi tersebut. Para anggota mulai terbiasa menyampaikan pendapat, membahas kebutuhan, mengambil keputusan, dan menjalankan tanggung jawab bersama. Usaha ternak memberi mereka alasan untuk terus bertemu sekaligus persoalan nyata yang harus mereka selesaikan sebagai kelompok.

Ada jadwal perawatan yang perlu disepakati. Ada pakan yang harus dicari, kesehatan kambing yang perlu dipantau, dan hasil penjualan yang harus dikelola. Proses itu tidak selalu berjalan mulus, tetapi membuat para anggota terbiasa bekerja bersama dan mempertanggungjawabkan keputusan yang telah dibuat.
Perubahan itu kemudian meluas ke luar kelompok. SHG mulai diundang dalam pertemuan desa, termasuk forum perencanaan pembangunan. Kehadiran mereka memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk menyampaikan sendiri kebutuhan dan pandangan mereka, alih-alih hanya dibicarakan oleh pihak lain.
Sahrul merasakan langsung perubahan tersebut. Setelah kehilangan kedua tangan akibat kecelakaan kerja, ia sempat kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam kehidupan sehari-harinya. Di SHG, ia kemudian mengambil peran sebagai ketua dan membantu mengoordinasikan kegiatan kelompok.
Perannya bukan tanpa tantangan. Ia harus memastikan anggota terlibat, menjaga komunikasi dengan pemerintah desa dan dinas terkait, serta ikut mencari jalan keluar ketika kelompok menghadapi kendala.
Salah satunya muncul pada musim kemarau, ketika ketersediaan dan kualitas pakan menurun. Kelompok juga masih perlu memperkuat tata kelola usaha, perawatan ternak, pengolahan limbah, dan perencanaan penyediaan pakan.
Meski masih dalam skala kecil, kelompok telah mulai menjual beberapa ekor kambing. Hasilnya belum besar, tetapi usaha tersebut sudah memberi pengalaman langsung kepada anggota tentang mengelola kegiatan ekonomi bersama.
Dengan dukungan INKLUSI, PRYAKKUM dan mitra lokalnya bekerja di tujuh provinsi dan delapan kabupaten untuk mendorong partisipasi bermakna orang dengan disabilitas psikososial dan penyandang disabilitas lainnya. SHG dikembangkan sebagai ruang dukungan komunitas, rehabilitasi sosial, pembelajaran, pengembangan penghidupan, dan partisipasi dalam pembangunan.
Di Selebung Ketangga, perkembangan kelompok dapat terlihat dari hal-hal yang sederhana: kandang yang dirawat bersama, jadwal kerja yang disepakati, dan kursi yang kini tersedia bagi mereka dalam pertemuan desa.
“SHG memberi ruang bagi kami untuk menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga mampu mengambil peran dan berkontribusi di masyarakat,” ujar Sahrul. “Kandang ini bukan sekadar tempat beternak, tetapi simbol perubahan, semangat, dan harapan kami.”