Setiap anak berhak atas masa depan. Prinsip ini tecermin dalam kisah Ages, seorang mantan Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) yang kini membangun kehidupan baru lewat sebuah kursi barbershop dan sepasang gunting. Setelah menyelesaikan masa pembinaannya di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bengkulu, Ages kembali ke masyarakat, membawa keterampilan dan harapan.
Ia memulai pembinaan pada 2020 di usia 17 tahun, dan bebas di akhir 2022. Selama di LPKA, ia mengikuti pelatihan barbershop yang difasilitasi oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bengkulu dengan dukungan Program INKLUSI. Pelatihan ini bukan hanya membekali Ages dengan keterampilan teknis, tapi juga membuka ruang baginya untuk dipercaya memangkas rambut sesama penghuni LPKA.
Kepercayaan itu tumbuh menjadi rasa tanggung jawab dan keyakinan bahwa ia masih punya masa depan. Ia mengantongi sertifikat pelatihan dan pengalaman langsung yang kelak menjadi fondasi usahanya. Begitu menyelesaikan pendampingan lanjutan di Balai Pemasyarakatan, Ages mendirikan King Barbershop pada 2023.
Upaya Mantan ABH Membangun Kepercayaan Diri, Masyarakat
Awalnya, pelanggan barbershop Ages hanya datang dari lingkungan terdekat. Namun, perlahan-lahan, kepercayaan masyarakat mulai terbentuk. Kini, ia bisa melayani lebih dari lima pelanggan per hari, bahkan hingga 25 orang saat menjelang Lebaran. Usaha ini masih ia kelola sendiri, dengan semangat dan tekad untuk terus belajar.
“Referensi potongan rambut banyak saya dapat dari media sosial. Jadi saya terus belajar supaya bisa mengikuti tren,” ujar Ages sambil memperlihatkan katalog gaya rambut yang terpajang di ruang kerjanya.
Promosi barbershop dilakukan secara sederhana lewat media sosial, dibantu oleh teman-teman dan keluarga. Ibunya menjadi salah satu pendukung terkuat, membantu kebutuhan usaha dan memastikan Ages bisa fokus menjalankannya. Dukungan ini membuat King Barbershop bukan hanya menjadi ruang usaha, tapi juga ruang sosial: tempat orang-orang datang bukan hanya untuk potong rambut, tapi juga untuk berbincang dan membangun kembali kepercayaan yang dulu sempat hilang.
Bagi sebagian masyarakat, kehadiran barbershop ini perlahan mengikis stigma. Ages, yang dulu dipandang dengan prasangka, kini dipercaya sebagai penyedia layanan profesional. Usahanya menjadi simbol pemulihan hubungan sosial—bahwa perubahan bisa tumbuh ketika diberi kesempatan.
Keluarga Kunci Proses Reintegrasi bagi Mantan ABH
Di balik transformasi Ages, ada satu fondasi penting yang menopang: keluarga. Selama di LPKA, ia berkomunikasi secara rutin dengan ibunya melalui panggilan video yang difasilitasi oleh lembaga. Dari obrolan harian itu, tumbuh dukungan yang tidak putus. Sang ibu menyambut rencana Ages untuk membuka usaha barbershop, bahkan sejak masih menjalani pembinaan.
“Dukungan keluarga itu sangat penting. Saya merasa beruntung, karena tidak semua anak di LPKA punya itu,” kata Ages. Ia menyadari, banyak teman-temannya yang merasa sendirian atau bahkan tidak tahu ke mana harus pulang setelah bebas.
Sang ibu pun mengaku, masa awal anaknya masuk LPKA adalah periode paling berat dalam hidupnya. Stigma dan tekanan sosial membuatnya sempat terpuruk. Namun, ia bangkit setelah memahami bahwa LPKA bukan hanya tempat hukuman, melainkan ruang pembinaan dan pendidikan.
“Saya memilih untuk tidak terus terpuruk. Kalau sudah jatuh, jangan mau dijatuhkan lagi. Kita buktikan dengan karya,” ujarnya.
PKBI tak hanya mendampingi Ages, tapi juga menyediakan ruang bagi keluarga. Melalui Forum Keluarga ABH, sang ibu mendapat kesempatan bertemu dan berbagi dengan orang tua lain. Forum ini menjadi tempat untuk saling menguatkan, belajar, dan memahami cara terbaik mendampingi anak dalam proses reintegrasi.
Kisah Ages membuktikan bahwa reintegrasi sosial tidak bisa dilakukan sendirian. Ia butuh ekosistem yang mendukung: lembaga pembinaan yang membekali keterampilan dan mental, keluarga yang hadir tanpa syarat, dan organisasi masyarakat seperti PKBI yang menjembatani semua itu dalam pendekatan yang manusiawi dan menyeluruh.
Melalui Program INKLUSI, PKBI terus memperjuangkan pemenuhan hak kelompok rentan seperti ABH, termasuk akses terhadap layanan dasar, perlindungan sosial, dan layanan kesehatan. Lebih dari itu, PKBI mendorong agar anak-anak yang pernah terjerat hukum bisa terbebas dari diskriminasi dan pengucilan, dan kembali diterima sebagai bagian utuh dari masyarakat.
King Barbershop mungkin hanya sebuah usaha kecil. Tapi bagi Ages, itu adalah ruang yang membuktikan bahwa masa lalu tidak harus membatasi masa depan—dan bahwa perubahan selalu mungkin, selama ada yang percaya.
