INKLUSI LOGO Full Color Stacked - English

Menjangkau Publik Baru untuk Inklusi Sosial: Partisipasi Mitra INKLUSI di Pesta Pinggiran 2026

Mitra INKLUSI memperkenalkan isu hak disabilitas di Pesta Pinggiran 2026.

Simulasi Disabilitas: Peserta mencoba memahami tantangan mobilitas penyandang disabilitas netra melalui simulasi menggunakan penutup mata.

Jakarta, 24–25 Januari 2026 — Di selasar lantai dua Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki (TIM), dua laki-laki dewasa muda bergantian mengikuti simulasi menjadi penyandang disabilitas netra. Satu orang berperan sebagai pendamping, sementara satu lagi menutup penglihatan dengan masker mata. Christ, yang menjalani simulasi, mengaku cemas sejak awal. Meski didampingi, ia tetap merasa takut saat melangkah. Ketika masker dilepas, matanya berkaca-kaca.

“Saya baru benar-benar menyadari betapa sulitnya bergerak dan merasa aman dalam aktivitas yang bagi banyak orang terlihat sederhana,” ujarnya.

Christ dan 19 peserta lainnya mengikuti lokakarya yang diadakan mitra INKLUSI, Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) dan Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (PRYAKKUM), bertajuk “Benarkah Difabel adalah Warga Negara yang Setara?”. Selama tiga jam, peserta diajak memahami ragam disabilitas, etika berinteraksi, serta tantangan akses hidup layak, disertai simulasi penggunaan alat bantu. Pengalaman langsung seperti ini menjadi pintu masuk untuk “mendaratkan” isu yang kerap dianggap rumit menjadi lebih dekat, konkret, dan mudah dipahami.

Dialog Inklusif lokakarya disabilitas
Dialog Inklusif: Suasana lokakarya interaktif yang mempertemukan masyarakat umum dengan isu-isu hak dasar penyandang disabilitas.
Menjangkau Publik Baru untuk Inklusi Sosial: Partisipasi Mitra INKLUSI di Pesta Pinggiran 2026 - INKLUSI
Kelas bahasa isyarat yang dipandu oleh SIGAB.

Keterlibatan mitra dalam festival dua tahunan ini dirancang sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan komunikasi publik sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap isu-isu inklusi sosial—mulai dari disabilitas, kesetaraan gender, pencegahan perkawinan anak, hingga hak pekerja migran.

Pesta Pinggiran sendiri merupakan biennale gerakan sosial yang diinisiasi media Project Multatuli sebagai ruang santai bagi gerakan sosial untuk berbagi cerita, karya, dan ide, sekaligus merayakan dampak kecil maupun besar yang telah tercipta. Dalam semangat membawa suara dan aksi dari pinggiran ke ruang publik yang lebih luas, festival ini mempertemukan organisasi masyarakat sipil, seniman, dan komunitas dalam format kolaboratif. Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan ini diperkirakan menarik sekitar 3.500 pengunjung.

Suasana Pesta Pinggiran di TIM
Simulasi aksesibilitas kursi roda mengajak pengunjung merasakan langsung tantangan yang dihadapi pengguna kursi roda.

 

Layanan pemeriksaan kesehatan PRYAKKUM
Layanan pemeriksaan kesehatan skoliosis dan flat feet di stan PRYAKKUM.

“Acara-acara dari mitra-mitra INKLUSI membuat Pesta Pinggiran semakin kaya dan inklusif,” ujar Yulia Sri Perdani, Collaboration Director Project Multatuli.

Sejalan dengan itu, mitra INKLUSI menghadirkan isu-isu kompleks dalam kemasan yang partisipatif dan mudah diakses—melalui lokakarya, permainan edukatif, hingga aktivasi terbuka yang memungkinkan pengunjung berinteraksi secara spontan. Selain lokakarya, delapan mitra INKLUSI mengisi dua area Pojok Anti Brain Rot selama dua hari penuh melalui aktivasi interaktif untuk memperkenalkan isu masing-masing organisasi. Format yang santai dan fleksibel membuat pengunjung dapat singgah kapan saja, mencoba, bertanya, dan terlibat secara natural—sambil tetap membawa pulang pengetahuan baru.

Permainan ular tangga HKSR Aisyiyah
Permainan ular tangga interaktif ‘Aisyiyah mengenai Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR).

 

Simulasi dampak perkawinan anak
“Swipe dari Masa Depan” oleh Lakpesdam PBNU, sebuah simulasi mengenai dampak perkawinan anak.

Aktivasi yang ditampilkan antara lain:

  • ‘Aisyiyah: ular tangga interaktif tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR);
  • Institut KAPAL Perempuan: kartu tanya-jawab dan ular tangga edukatif tentang keadilan gender;
  • Lakpesdam PBNU: “Swipe Dari Masa Depan”, simulasi dampak perkawinan anak;
  • SIGAB: simulasi jalur kursi roda dan kelas bahasa isyarat;
  • PRYAKKUM: etalase alat bantu, simulasi disabilitas psikososial, serta layanan cek skoliosis dan flat feet;
  • PEKKA dan PKBI: produk komunitas, seperti kerajinan dan makanan;
  • MigrantCARE: penampilan puisi “Ratapan Tangis TKW” karya Komunitas Desbumi Desa Sindupaten (24 Januari), diiringi petikan gitar dan didampingi Juru Bahasa Isyarat.
Produk komunitas mitra INKLUSI
Stan kolektif mitra INKLUSI yang menampilkan produk komunitas, termasuk kerajinan tangan dan makanan lokal.

 

Edukasi keadilan gender KAPAL Perempuan
Institut KAPAL Perempuan: kartu tanya-jawab dan ular tangga edukatif tentang keadilan gender.

Rangkaian aktivasi ini memperlihatkan bagaimana isu-isu advokasi dapat hadir dalam bentuk yang ramah audiens tanpa mengurangi bobotnya. Di area simulasi kursi roda, misalnya, sejumlah pengunjung yang mencoba jalur berkerikil menyampaikan bahwa mereka baru menyadari betapa sulitnya menavigasi ruang publik ketika aksesibilitas tidak disiapkan sejak awal. Kesadaran seperti ini sering kali tidak lahir dari informasi semata, melainkan dari pengalaman yang membuat orang berhenti sejenak dan meninjau ulang realitas sehari-hari.

Pesan suara pengunjung
Pengunjung berbagi pesan suara dan testimoni tentang makna membangun masyarakat yang inklusif.

Alfitra Yosi Putrijaya dari PRYAKKUM menyampaikan apresiasi atas peluang kolaborasi di ruang publik ini. Menurutnya, pengalaman pertama menyampaikan isu disabilitas dalam format yang lebih ringan terbukti efektif dan diterima pengunjung, sekaligus memperkuat peran organisasi sebagai penggerak ekosistem.

“Kami melihat pengalaman ini memperkuat kapasitas sebagai ecosystem builder, termasuk untuk mengembangkan pendekatan baru dalam membangun branding lembaga serta mengajak lebih banyak pihak terlibat dalam pemenuhan hak orang-orang dengan disabilitas psikososial (ODDP),” ujar Alfitra.

Icon Inklusi