Jakarta, 24 September 2026 – INKLUSI bersama mitranya mendorong penguatan perawatan lansia melalui layanan berbasis komunitas, pelatihan pemberi perawatan, dan pemberdayaan ekonomi. Bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Kemendukbangga/BKKBN), INKLUSI juga sedang mengembangkan modul untuk memperkuat kapasitas keluarga dan kader dalam memberikan perawatan jangka panjang.
Upaya ini merespons kebutuhan Indonesia yang memasuki fase penduduk menua. Lansia membutuhkan layanan yang saling terhubung, sementara keluarga dan pemberi perawatan membutuhkan keterampilan, sumber daya, serta akses layanan untuk mendukung mereka.
Kate Shanahan, Team Leader INKLUSI, menyampaikan pentingnya dukungan tersebut dalam diskusi panel High-Level Forum on Impactful and Sustainable International Partnerships for Population and Family Development yang diselenggarakan oleh Kemendukbangga/BKKBN.
Forum ini membahas penguatan kemitraan untuk mengoptimalkan bonus demografi melalui pendekatan siklus hidup, termasuk pembangunan keluarga, peningkatan produktivitas, serta kesiapan menghadapi populasi yang menua. Dalam acara ini, turut hadir Duta Besar Australia, UNFPA, UNICEF, serta sejumlah mitra pembangunan internasional.

Menurut Shanahan, tanggung jawab perawatan lansia melibatkan keluarga, pemberi perawatan atau caregiver, layanan komunitas, dan penyedia layanan formal. Pengalaman INKLUSI di lapangan menunjukkan bahwa keterhubungan antarlayanan masih terbatas. Karena itu, penguatan kapasitas pemberi perawatan perlu berjalan seiring dengan perluasan akses layanan.
“Kami juga mendorong kehadiran dukungan perawatan lansia, baik melalui pelayanan publik maupun privat,” ujar Shanahan.
Mitra INKLUSI Memperkuat Dukungan di Komunitas
Mitra INKLUSI menjalankan berbagai inisiatif yang merespons kebutuhan lansia dan orang-orang yang merawat mereka.
‘Aisyiyah menyediakan layanan daycare lansia yang memadukan kegiatan sosial, kesehatan, pembelajaran, dan rekreasi. Organisasi ini juga melatih caregiver serta menyediakan dukungan keperawatan berbasis komunitas bagi lansia dengan kondisi kronis.

PR YAKKUM memperkuat kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan caregiver. Sementara itu, PERMAMPU mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan lansia melalui kegiatan Credit Union (CU).

Inisiatif ini memperlihatkan beragam kebutuhan lansia, mulai dari perawatan kesehatan dan interaksi sosial hingga dukungan ekonomi. Untuk memenuhinya, layanan bagi lansia perlu terhubung dengan dukungan bagi keluarga, caregiver, dan penyedia layanan.
Kader Bina Keluarga Lansia (BKL) dan kader desa berperan penting dalam menghubungkan lansia serta keluarga dengan informasi, edukasi, dan layanan. Modul yang sedang dikembangkan INKLUSI bersama Kemendukbangga/BKKBN ditujukan untuk memperkuat keterampilan keluarga dan kader dalam merespons kebutuhan perawatan jangka panjang.
Menghubungkan Pengalaman Lapangan dengan Kebijakan
Penguatan layanan komunitas perlu didukung oleh koordinasi pemerintah dan pemanfaatan data. Budi Setiyo, Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN, menyampaikan bahwa data kondisi kesehatan lansia dari Posyandu dapat membantu pemerintah memetakan kebutuhan serta menentukan peran masing-masing kementerian.

“Melalui Posyandu, kondisi kesehatan lansia dapat didata dan menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan mereka.” Ujar Prof. Budi Setiyono.
Kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan membuka ruang untuk membawa pengalaman komunitas ke tingkat daerah dan nasional. Melalui layanan yang dijalankan mitra serta pengembangan modul bersama pemerintah, INKLUSI mendukung proses ini dengan pembelajaran dari lapangan.
Pembelajaran tersebut perlu menjadi dasar penguatan kebijakan dan layanan yang lebih terintegrasi agar lansia memperoleh dukungan sesuai kebutuhan, sekaligus memperkuat keluarga dan pemberi perawatan yang mendampingi mereka.