Purwakarta, 12 Februari 2026 — Program INKLUSI menutup rangkaian Kunjungan Pemantauan Bersama (Joint Monitoring Visit/JMV) di Jawa Barat dengan mengunjungi Kabupaten Purwakarta bersama Yayasan PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga), untuk meninjau pemberdayaan ekonomi perempuan kepala keluarga di tingkat desa.
Kunjungan ini melibatkan Bappenas, kementerian/lembaga terkait, perwakilan pemerintah Australia (DFAT), pemerintah daerah, serta tim Sekretariat INKLUSI. Di Purwakarta, delegasi melihat capaian, pembelajaran, dan tantangan dalam memperkuat kemandirian ekonomi perempuan kepala keluarga melalui pengorganisasian komunitas dan pengembangan usaha berbasis desa.
Kabupaten Purwakarta memiliki jumlah keluarga yang dikepalai perempuan yang cukup besar. Sejak 2022, dengan dukungan Program INKLUSI, PEKKA memperluas pengorganisasian perempuan kepala keluarga di Purwakarta untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan yang berbasis pada kesetaraan gender.
Melalui strategi Akademi Paradigta Kewirausahaan (AP-Kewirausahaan), PEKKA melatih perempuan kepala keluarga menjadi penggerak ekonomi inklusif lintas kelompok. Dalam tiga tahun, PEKKA Purwakarta telah meluluskan 67 perempuan penggerak yang mengembangkan 13 usaha kelompok dan 28 usaha individu di tujuh desa berbasis potensi lokal.
Dalam kunjungan lapangan, delegasi JMV mengunjungi Balai Desa Ciherang dan pasar mingguan desa yang menjadi ruang pemasaran berbagai produk lokal, seperti keripik, opak, dan teh daun talang. Pasar desa yang rutin digelar setiap minggu ini menjadi contoh bagaimana perempuan kepala keluarga membangun ekosistem ekonomi lokal berbasis komunitas sekaligus memperluas akses pasar bagi usaha mereka.

Namun, berbagai tantangan masih dihadapi. Keterbatasan akses terhadap bahan baku dan modal usaha masih menjadi hambatan utama. Para peserta AP Kewirausahaan mengidentifikasi kebutuhan lahan untuk menanam singkong dan pisang sebagai bahan baku produksi makanan ringan, guna memperkuat rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada pemasok dari luar desa.
Selain penguatan ekonomi, PEKKA juga mengorganisasi perempuan kepala keluarga miskin melalui Forum Perempuan Desa serta merintis Layanan Lansia Terpadu (LLT) sejak 2022. Mulai 2026, LLT direncanakan mengembangkan pendidikan lansia berbasis pendekatan new longevity untuk mendukung kesejahteraan perempuan di usia lanjut.
PEKKA juga menyediakan pendampingan hukum bagi perempuan kepala keluarga, terutama untuk mencegah praktik percaloan dan pungutan tidak resmi dalam kasus perceraian. Anggota PEKKA secara rutin mendokumentasikan pengalaman advokasi mereka, termasuk keterlibatan dalam Musrenbang, sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan pembelajaran kolektif.

INKLUSI di Purwakarta: Respons dan Dukungan Pemerintah
Dalam dialog bersama pemerintah daerah dan kementerian/lembaga, Bappenas mengapresiasi strategi PEKKA dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan kepala keluarga. Bappenas menekankan pentingnya pendampingan mentor usaha dan mendorong kolaborasi yang lebih erat dengan Dinas UMKM untuk mengatasi hambatan permodalan, bahan baku, dan pemasaran.
Dinas UMKM Kabupaten Purwakarta menyampaikan bahwa anggota Akademi Paradigta Kewirausahaan telah dilibatkan dalam pelatihan wirausaha, perizinan, dan pengemasan produk. Namun, dukungan alat produksi, seperti mesin spinner, masih dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.
Sementara itu, Kementerian Sosial melalui Dinas Sosial juga memiliki program bantuan sosial dan pemberdayaan bagi perempuan kepala keluarga pada desil 1–5. PEKKA didorong untuk mengusulkan pelatihan keterampilan dan pendampingan usaha produktif sebagai bagian dari integrasi dukungan sosial dan ekonomi.
Sebagai tindak lanjut, para pihak menyepakati penguatan kolaborasi antara PEKKA dan Dinas UMKM untuk mengatasi kendala modal, bahan baku, dan pemasaran. Dinas UMKM menyatakan komitmennya untuk memenuhi kebutuhan alat spinner serta melanjutkan pelatihan usaha dan perizinan. Dinas Sosial Kabupaten Purwakarta juga akan menindaklanjuti usulan pelatihan dan pendampingan usaha produktif bagi perempuan kepala keluarga.
Temuan dan pembelajaran dari kunjungan di Purwakarta menjadi masukan strategis bagi penyempurnaan perencanaan dan implementasi Program INKLUSI pada Fase II. Penguatan praktik baik—mulai dari pengorganisasian perempuan kepala keluarga, pengembangan usaha berbasis desa, hingga integrasi dukungan lintas dinas—menjadi salah satu kunci untuk memastikan keberlanjutan dampak program.
Bappenas dan DFAT menyampaikan apresiasi kepada seluruh kementerian/lembaga, pemerintah daerah, mitra, dan komunitas yang terlibat aktif dalam kunjungan ini.
