Sehari sebelum pertemuan bulanan, para anggota Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) di Desa Kalamba, Sumba Timur, berkumpul di rumah ketua atau bendahara kelompok. Mereka menggoreng kacang tanah, mencampurnya dengan tepung dan telur, lalu mengemasnya menjadi kacang telur untuk dijual di sekolah dan lingkungan sekitar.
Modal usaha itu berasal dari kas kelompok. Keuntungannya dikembalikan ke kas agar dana yang dapat dipinjam anggota terus bertambah.
Bagi para perempuan di Kalamba, UBSP bukan sekadar tempat menabung. Kelompok menjadi penyangga ketika anak membutuhkan seragam sekolah, keluarga perlu membeli beras, ada anggota yang sakit, atau seseorang membutuhkan modal untuk membeli bibit.
Manfaat itu kini juga dipahami Lota Lapuraeng. Ia hadir dalam pertemuan kelompok mewakili istrinya, Ance Kareridema, yang baru melahirkan. Padahal, saat Ance pertama kali ingin bergabung, Lota sempat melarang istrinya.
“Saya bilang, buat apa ikut kelompok? Tetapi dia bilang, enak ikut UBSP karena kalau nanti ada kebutuhan, kami bisa meminjam. Sekarang saya mengerti manfaatnya,” kata Lota.

Kelompok di Kalamba beranggotakan 13 perempuan. Dengan iuran Rp5.000 per bulan, aset mereka telah tumbuh menjadi lebih dari Rp7 juta—jumlah yang kecil bagi lembaga keuangan formal, namun sangat berarti bagi keluarga yang membutuhkan dana cepat dengan persyaratan ringan.
Sebelumnya, warga harus menunggu penghasilan, menjual ayam atau tikar, atau meminjam dengan bunga tinggi untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Kini, uang yang berputar berasal dari simpanan mereka sendiri.
UBSP Menjawab Kebutuhan, Memperbaiki Jalan
Manfaat serupa dirasakan warga Desa Mbatakapidu. UBSP di desa ini dirintis sejak 2010 dengan iuran awal Rp1.000 per bulan. Setelah setahun, tabungan itu menjadi simpanan pokok. Anggota kemudian melanjutkan simpanan wajib sebesar Rp5.000 setiap bulan.
Lembaga Bumi Lestari (LBL), mitra lokal KEMITRAAN yang didukung program INKLUSI, mendampingi kelompok ini memperkuat tata Kelola sehingga aturan peminjaman, jadwal pengembalian, pencatatan keuangan, rapat anggota, dan pembagian sisa hasil usaha menjadi lebih tertib.
Pinjaman digunakan untuk biaya pendidikan, pengobatan, perbaikan rumah, pembelian ternak, dan usaha produktif. Besarnya disesuaikan dengan simpanan serta kemampuan anggota mengembalikannya.
“Kalau anak perlu uang sekolah atau ada keluarga yang sakit, kami tidak harus langsung mencari pinjaman ke luar. Uang yang kami kumpulkan bisa dipakai, lalu dikembalikan supaya anggota lain juga bisa meminjam,” ujar Korlina Kondangguna, kader di Mbatakapidu.
Manfaat UBSP bahkan melampaui kebutuhan rumah tangga. Sebagian sisa hasil usaha digunakan untuk membeli semen dan bahan lain guna memperbaiki jalan desa yang sebelumnya sulit dilalui dan rawan kecelakaan.
“Dana desa ada, tetapi wilayah kami luas dan berupa perbukitan. Jadi, kami mulai dulu dengan kemampuan kelompok. Kami beli bahan untuk jalan supaya kendaraan bisa lewat lebih aman,” kata Korlina.

Inisiatif swadaya tersebut kemudian memperoleh dukungan pemerintah desa untuk melanjutkan pengerasan jalan. Kelompok juga mengembangkan tabungan pendidikan dan kesehatan agar kebutuhan mendesak tidak selalu berujung pada utang berbunga tinggi.
Selain simpan pinjam, warga menjalankan usaha anyaman, menanam sayuran, dan beternak ayam. Namun, keterbatasan listrik dan internet masih menghambat pengembangan usaha.
“Kalau siang, bahan anyaman cepat kering, jadi kami menganyam malam. Tetapi belum ada listrik, kami masih pakai lentera. Produk sudah bisa dijual, tetapi jaringan internet juga tidak ada, jadi sulit memasarkannya lebih luas,” ujar Korlina.
Perubahan yang Dimulai dari Rumah
Pendampingan LBL juga membuka diskusi mengenai pembagian peran dalam keluarga. B. Tuohangara mengakui bahwa dahulu sebagian besar pekerjaan rumah tangga dibebankan kepada perempuan.
“Dulu mama-mama yang lebih banyak kerja. Kami sebagai bapak-bapak tinggal minta kopi, tidak peduli ada atau tidak kopinya, atau mama sedang mengerjakan apa,” ujar lelaki itu.
Perlahan, para laki-laki mulai memahami bahwa pekerjaan rumah dan pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama. Mereka juga menyadari bahwa perempuan kerap lebih memahami kebutuhan keluarga, mulai dari persediaan pangan hingga biaya pendidikan anak.
“Sekarang kami mulai menyadari sendiri. Untuk manajemen ekonomi rumah tangga, mama-mama justru lebih tahu. Jadi, keputusan juga harus dibicarakan bersama,” ujar Tuongahara.
Korlina melihat semakin banyak laki-laki yang mulai memasak dan mengurus anak. Menurutnya, perubahan juga mulai terasa dalam ruang adat dan publik, tempat suara perempuan sebelumnya sering tidak diperhitungkan.
“Dulu perempuan bekerja lebih keras, sementara laki-laki tinggal minta kopi. Sekarang sudah lebih baik. Laki-laki juga memasak dan bapak ikut mengurus anak,” katanya.
Keberlanjutan kelompok masih menjadi tantangan. Dari 27 UBSP yang pernah ada di Mbatakapidu, sekitar tujuh hingga delapan masih aktif. Para pengurus mulai memikirkan regenerasi dengan melibatkan anak muda.
“Masa kami urus terus sampai mati,” kata Korlina. “Anak-anak muda harus mulai dilibatkan supaya nanti ada yang melanjutkan.”
