INKLUSI LOGO Full Color Stacked - English

Terasi Lajut, Usaha Bersama yang Menguatkan Perempuan Purna Pekerja Migran

Terasi Lajut, Usaha Bersama yang Menguatkan Perempuan Purna Pekerja Migran 

Di sebuah rumah warga di Desa Lajut, Lombok Timur, sekelompok perempuan berbagi tugas membuat terasi: membersihkan udang kecil, menumbuk, menggiling, dan menjemur adonan. Produk yang mereka hasilkan, Terasi Lajut, kini menjadi salah satu produk unggulan desa. 

Kelompok ini beranggotakan purna pekerja migran Indonesia dan keluarganya yang tergabung dalam Desa Peduli Buruh Migran (DESBUMI). Dengan pendampingan Migrant CARE, mereka membentuk usaha bersama yang memproduksi terasi—bumbu berbahan udang rebon yang difermentasi dengan garam—sebagai sumber penghasilan baru setelah kembali ke desa. 

Gagasan usaha ini muncul dari ketersediaan udang kecil di wilayah setempat serta kebutuhan sehari-hari masyarakat akan terasi.  

tiga orang perempuan berkerudung duduk lesehan di sebuah tempat terbuka, dengan menggunakan sarung tangan plastik, mereka penuh semangat mengaduk-aduk bahan pembuat terasi.

“Terasi selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Karena bahan bakunya juga tersedia di sekitar kami, akhirnya kami mencoba membuatnya bersama,” ujar Mairi, ketua kelompok usaha DESBUMI Desa Lajut. 

Setelah belajar dari tempat pengolahan terasi lokal, kelompok ini mencoba mengolah 1 kilogram udang menggunakan lesung, alat penggiling manual, dan blender kecil. Hasilnya memuaskan. Lima anggota kemudian patungan Rp200.000 per orang, atau total sekitar Rp1 juta, untuk membeli blender dan bahan baku produksi berikutnya. 

Produksi berkembang bertahap, dari 5 kilogram udang hingga puluhan kilogram saat bahan baku tersedia. Setiap tahap membersihkan, menggiling, menjemur, mengemas—dikerjakan bersama, dengan pembagian hasil sesuai kontribusi: upah untuk yang berproduksi, bagian penjualan untuk pemasar, dan sisanya masuk kas kelompok. 

Terasi Lajut, Usaha Bersama yang Menguatkan Perempuan Purna Pekerja Migran - INKLUSI

Proses tersebut membuat anggota tidak hanya belajar membuat terasi. Mereka juga mulai terbiasa mengelola modal, membagi tanggung jawab, menjaga kualitas produk, dan mengambil keputusan bersama. 

Dari Usaha Rumahan Menuju Kepercayaan Desa 

Awalnya dipasarkan ke keluarga dan warga sekitar, Terasi Lajut kini merambah WhatsApp, Facebook, pasar tradisional, bazar lokal, hingga kegiatan UMKM di kawasan Mandalika, bahkan dikirim sampai ke Jawa. Nama “Terasi Lajut” sengaja dipakai agar produk mudah dikenali dan terkait dengan potensi lokal. 

Terasi Lajut, Usaha Bersama yang Menguatkan Perempuan Purna Pekerja Migran - INKLUSI

“Terasi Lajut menggunakan udang asli dan tidak memakai bahan pengawet. Kami ingin ketika orang mengingat terasi, mereka juga mengingat Lajut,” kata Mairi. 

Perubahan usaha tersebut tidak hanya terlihat dari bertambahnya produksi dan meluasnya pemasaran. Anggota yang sebelumnya belum memiliki pengalaman menjalankan usaha bersama kini mulai terbiasa merencanakan produksi, membagi pekerjaan, mengelola hasil penjualan, dan menyelesaikan persoalan sebagai kelompok. 

“Sejak bergabung dengan kelompok, kami menjadi lebih bersemangat. Kami mendapatkan pelatihan, pengalaman, dan jaringan baru untuk memasarkan produk,” tambah Raihana, anggota kelompok usaha DESBUMI. 

Terasi Lajut, Usaha Bersama yang Menguatkan Perempuan Purna Pekerja Migran - INKLUSI

Migrant CARE mendampingi kelompok mengenali potensi lokal, memperkuat kelembagaan usaha, mengembangkan keterampilan, memperluas jaringan pemasaran, sekaligus membangun komunikasi dengan pemerintah desa. Pengorganisasian melalui kegiatan ekonomi ini menjadi strategi Migrant CARE untuk memperkuat kemandirian mantan pekerja migran—agar mereka punya posisi lebih kuat dalam mengadvokasi hak dan pelindungan bagi diri dan keluarga mereka. 

“Strategi yang kami lakukan adalah bagaimana teman- teman bisa mandiri, tetapi dimulai dari kemandirian ekonomi terlebih dahulu dengan membentuk kelompok. Setelah mandiri secara ekonomi, mereka kami dorong untuk melakukan advokasi, misalnya kepada desa untuk mengakses anggaran dan dalam penanganan kasus,” ujar Tutik, staf lapang Migrant CARE Lombok. 

Konsistensi produksi dan manfaat usaha yang terlihat nyata perlahan menumbuhkan kepercayaan pemerintah desa. Terasi DESBUMI pun diakui sebagai produk unggulan Desa Lajut, dengan dukungan pelatihan dan dua unit blender dari pemerintah desa. Anggota kelompok tidak lagi dipandang sekadar penerima manfaat, melainkan pengelola usaha yang berkontribusi pada perekonomian desa. 

Terasi Lajut, Usaha Bersama yang Menguatkan Perempuan Purna Pekerja Migran - INKLUSI

“Ketika pemerintah desa sudah merasakan manfaatnya, kami tidak perlu terlalu sulit mendorong agar tersedia dukungan dari anggaran desa,” ujar Tutik.

Pendampingan Migrant CARE tak berhenti di pengembangan usaha—anggota DESBUMI juga berkoordinasi dengan Pos Pelayanan Terpadu desa untuk menghubungkan warga dengan layanan yang mereka butuhkan saat menghadapi persoalan sebagai pekerja migran.

Tantangan tetap ada: ketersediaan udang bergantung musim, hujan menghambat penjemuran, kapasitas produksi terbatas karena masih mengandalkan peralatan rumah tangga, dan persyaratan fasilitas produksi menyulitkan pengurusan izin pangan. Namun dari percobaan satu kilogram udang, usaha ini kini telah diproduksi berkali-kali, dipasarkan hingga luar daerah, dan dipercaya sebagai produk unggulan desa—membuka peluang pendapatan sekaligus memperkuat kemampuan anggota untuk bekerja sama dan memperjuangkan hak mereka. 

Melalui dukungan INKLUSI, Migrant CARE memperkuat kelompok DESBUMI untuk mendukung perempuan pekerja migran Indonesia, keluarga mereka, dan kelompok marginal lainnya dalam memperoleh hak-haknya, termasuk akses terhadap pekerjaan layak dan penghidupan berkelanjutan, melalui pengorganisasian komunitas, pendampingan, pendidikan, dan advokasi. 

Icon Inklusi