Di sebuah dapur sederhana di Jalan Barukang 3, Makassar, Ammar memulai perjuangannya. Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, ia menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari, ia memasak makanan untuk dijual, yang kemudian dipasarkan oleh sepupunya. Usaha itu berjalan apa adanya—tanpa pencatatan keuangan, tanpa perencanaan, dan tanpa kepastian keuntungan. Yang penting, cukup untuk makan hari itu.
Perubahan mulai terasa ketika Ammar bertemu staf lapangan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) INKLUSI yang mengenalkannya pada program pemberdayaan usaha bagi komunitas ragam gender. Awalnya, ia ragu. Usahanya terasa terlalu kecil dan ia belum percaya diri untuk mengikuti pelatihan. Namun, keraguan itu perlahan sirna setelah ia mengikuti pelatihan selama tiga hari.
Dari sana, Ammar mulai mempelajari hal-hal yang sebelumnya terasa rumit: menghitung modal, menentukan harga jual, memisahkan uang usaha dan uang pribadi, serta mencatat pemasukan dan pengeluaran. Ia juga memahami pentingnya membangun identitas usaha dan menjaga kualitas produk.
“Usahaku yang dulu cuma dianggap cara bertahan hidup, sekarang terasa lebih jelas arahnya. Aku jadi lebih percaya diri karena tahu usahaku bisa berkembang,” ujar Ammar.
Pendampingan tidak berhenti di pelatihan. PKBI INKLUSI juga mendukung Ammar mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Ketika NIB miliknya resmi terbit, Ammar merasakan bagaimana usaha yang sebelumnya hanya ia anggap sekadar cara untuk menyambung hidup kini memiliki legalitas dan pengakuan. Ia tidak lagi hanya “berjualan di depan rumah”, tetapi mulai berdiri sebagai pelaku usaha yang sah.
Perubahan ini penting bukan hanya karena usaha Ammar menjadi lebih tertata, tetapi juga karena menyangkut martabat dan rasa aman. Dengan pencatatan keuangan, Ammar dapat melihat perkembangan usahanya secara nyata dan mulai merencanakan masa depan. Dengan NIB, ia memiliki identitas usaha yang legal. Dengan KIS, ia dan ibunya memiliki perlindungan kesehatan.
Lebih dari itu, perubahan ini juga berdampak pada kepercayaan dirinya.
“Saya merasa lebih dihargai, lebih berani bermimpi, dan tidak lagi merasa berjalan sendirian,” ujarnya.

Ia kini menjadi bagian dari jejaring yang saling mendukung, sekaligus menjadi inspirasi bagi teman-teman ragam gender lainnya bahwa usaha kecil pun bisa tumbuh jika dikelola dengan baik dan didukung dengan pendampingan yang tepat.
Melalui Program INKLUSI, PKBI berperan sebagai fasilitator pembelajaran dan pendamping. Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa pelatihan teknis, tetapi juga membuka akses terhadap legalitas usaha dan jaminan sosial. Pendekatan yang inklusif membuat Ammar merasa diterima tanpa stigma, sehingga proses belajarnya dapat berjalan dengan lebih percaya diri. Dukungan dari Sekretariat INKLUSI juga memperkuat implementasi program, sehingga pendampingan dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Kini, dapur kecil di Jalan Barukang bukan lagi sekadar ruang memasak. Tempat itu telah menjadi simbol perubahan yang nyata. Dari ruang sederhana itulah Ammar mulai menata hidupnya dengan arah yang lebih jelas—bukan lagi sekadar bertahan dari hari ke hari, tetapi membangun masa depan dengan keyakinan baru.