INKLUSI LOGO Full Color Stacked - English

Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026: PERMAMPU Dorong Pemenuhan HKSR Perempuan Lansia

Perempuan mengakses layanan konsultasi di pusat OSS&L terkait kesehatan seksual dan reproduksi serta perlindungan dari kekerasan.

Medan, 7 September 2026 – Selama ini, isu kesehatan dan hak seksual dan reproduksi (HKSR) identik dengan remaja dan usia produktif: pubertas, kehamilan, infeksi menular seksual. Suara perempuan lanjut usia nyaris tak terdengar dalam pembahasan ini, padahal seksualitas adalah bagian dari kehidupan setiap orang, sepanjang hayat.

Perempuan lanjut usia tetap memiliki kebutuhan dan menghadapi berbagai persoalan terkait kesehatan seksual. Namun, mereka belum selalu memiliki ruang yang aman untuk membicarakan pengalaman dan kebutuhannya.

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026, Mitra INKLUSI, Konsorsium PERMAMPU (Perempuan Sumatera Mampu), menggelar pertemuan hibrida bertema “Merayakan HKSR di Seluruh Siklus Kehidupan”. Pertemuan ini memberikan perhatian khusus kepada perempuan lansia berusia di atas 60 tahun dan pralansia berusia di atas 45 tahun.

Tangkapan Layar pertemuan hibrida bertema "Merayakan HKSR di Seluruh Siklus Kehidupan", acara ini berfokus untuk pemenuhan HKSR bagi perempuan Lansia.
Merayakan HKSR di Seluruh Siklus Kehidupan

Membicarakan kesehatan seksual bukan perkara mudah bagi perempuan lansia dan pralansia. Ruang aman untuk berbagi pengalaman masih terbatas, stigma membuat banyak dari mereka enggan membicarakan seksualitas, dan layanan kesehatan seksual pun masih berorientasi pada kelompok usia produktif.

Bagi Koordinator Konsorsium PERMAMPU, Dina Lumbantobing, kondisi ini menegaskan bahwa HKSR merupakan bagian integral dari hak asasi manusia.

“Perempuan lansia menghadapi dinamika kesehatan seksual yang kompleks, tetapi terkendala oleh minimnya ruang aman untuk mendiskusikannya secara kritis serta tingginya stigma masyarakat,” ujarnya.

Pertemuan tersebut dilaksanakan secara daring dan luring melalui sekitar 25 titik kumpul di sejumlah kabupaten dan kota pada 10 provinsi di Sumatra, tempat organisasi-organisasi anggota PERMAMPU bekerja.

Dokter spesialis penyakit dalam dan geriatri, Nur Rivati, juga menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan seksual pada usia lanjut.

“Seksualitas merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Jika aspek seksualitas tidak diperhatikan, hal ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan psikologis lansia, bahkan berkontribusi memunculkan depresi,” jelasnya.

Namun, keluhan perempuan lansia berisiko tidak terdengar, ujarnya. Sebagian memilih diam karena enggan membebani keluarga, sedangkan lingkungan di sekitar mereka belum tentu mampu mengenali kebutuhan tersebut.

Memahami kebutuhan perempuan lansia dan pralansia

Pertemuan ini mengidentifikasi sejumlah kebutuhan strategis terkait HKSR perempuan lansia dan pralansia. Hasil asesmen menunjukkan bahwa tantangan yang mereka hadapi tidak hanya berkaitan dengan perubahan fisik seiring bertambahnya usia, tetapi juga dengan kemampuan untuk memahami, menyuarakan, dan memperoleh layanan yang sesuai dengan kebutuhan seksual mereka.

Tabu dan persepsi yang keliru mengenai seksualitas lansia menjadi salah satu hambatan utama. Seksualitas masih kerap dipahami semata-mata sebagai hubungan seksual. Padahal, pada usia lanjut, seksualitas juga mencakup otonomi tubuh, keintiman, sentuhan, kasih sayang, serta berbagai perubahan yang terjadi pada masa perimenopause dan pascamenopause.

Dinding ruangan menampilkan beberapa poster dan infografik tentang perkawinan anak, hak kesehatan seksual dan reproduksi, serta alur layanan kesehatan seksual dan reproduksi perempuan.
Poster dan infografik edukasi hak kesehatan seksual dan reproduksi

Ketersediaan informasi dan layanan kesehatan seksual juga masih lebih banyak berorientasi pada kelompok usia produktif. Sementara itu, kebutuhan spesifik perempuan dari masa perimenopause hingga pascamenopause belum terdata dan terlayani secara memadai.

Keterbatasan tenaga ahli serta belum meratanya layanan geriatri dan kesehatan seksual hingga tingkat puskesmas turut menjadi tantangan. Kondisi ini mempersempit akses perempuan lansia terhadap informasi, pemeriksaan, dan konsultasi yang mereka perlukan.

Hak kesehatan seksual sebagai kebutuhan dasar

Memasuki usia lanjut tidak serta-merta menghapus kebutuhan seseorang akan seksualitas. Karena itu, hak atas kesehatan seksual perempuan lansia merupakan bagian dari kebutuhan dasar yang harus dipenuhi sepanjang siklus kehidupan.

Pemenuhan HKSR tidak cukup dilakukan hanya dengan menyediakan informasi. Diperlukan pula sistem pelayanan yang memungkinkan perempuan lansia memperoleh pemeriksaan dan konsultasi secara aman, ramah, tanpa penghakiman, serta tetap menjamin kerahasiaan mereka.

Di tingkat komunitas, PERMAMPU, dengan dukungan INKLUSI, memperkuat upaya pemenuhan HKSR melalui pendidikan seksual berbasis keluarga dan komunitas yang mencakup seluruh kelompok usia. Upaya ini berjalan beriringan dengan pembangunan ruang aman bagi perempuan lansia untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mengenali kebutuhan kesehatan seksual mereka.

Untuk mendorong perubahan pada tingkat kebijakan dan pelayanan, PERMAMPU bersama organisasi-organisasi anggotanya juga melakukan pemetaan atas isu-isu spesifik HKSR perempuan lansia di berbagai wilayah sebagai bagian dari agenda advokasi.

Selain itu, PERMAMPU mendorong pengintegrasian HKSR ke dalam layanan kesehatan melalui kerja sama dengan dinas terkait, sekaligus mengupayakan lahirnya kebijakan lokal yang lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan lansia.

HKSR merupakan hak yang melekat pada setiap orang sepanjang hidup. Bagi perempuan lansia, kebutuhan kesehatan seksual dapat menjadi semakin kompleks seiring dengan perubahan yang terjadi karena pertambahan usia. Namun, ruang untuk memperoleh informasi dan menyampaikan kebutuhan justru kerap semakin terbatas.

Sudah saatnya pengalaman, suara, dan kebutuhan perempuan lansia mendapat tempat dalam layanan kesehatan maupun kebijakan publik.

Icon Inklusi