INKLUSI LOGO Full Color Stacked - English

Suara Perempuan Cina Benteng Kini Sampai ke Balai Desa

Panas terik memantul dari jalanan berdebu di Desa Belimbing, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang. Pabrik dan gudang berjajar mengelilingi permukiman, sementara pagar Bandara Soekarno-Hatta nyaris menempel di batas desa. Setiap beberapa menit, pesawat melintas rendah di atas atap rumah, menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari warga.

Di desa inilah Chen Fie menghabiskan sebagian besar hidupnya. “Dulu saya cuma tahu sumur, kasur, dapur,” kata perempuan 51 tahun yang mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar itu.

Chen Fie menikah muda, cenderung pendiam, dan jarang terlibat dalam kegiatan di luar rumah. Hidupnya mulai berubah pada 2022, ketika Perkumpulan Pengembangan Perempuan dan Sumberdaya (PPSW) Jakarta, mitra lokal KEMITRAAN, mulai mengorganisasi perempuan di RT 01 tempatnya tinggal.

Chen Fie dari komunitas Perempuan Cina Benteng memegang makanan yang akan disajikan untuk ritual Sembahyang Cit Gwee di Desa Belimbing, Kosambi, Tangerang, Banten, Rabu (19/8/2026). Chen Fie juga menjadi bagian dari Koperasi Lampion Merah Abadi yang turut berperan dalam peningkatan kapasitas ekonomi sejumlah warga masyarakat desa Belimbing.
Chen Fie pemimpin Koperasi Wanita Pengembang Sumberdaya (KWPS).

Kini, Chen Fie memimpin Koperasi Wanita Pengembang Sumberdaya (KWPS) Lampion Merah Abadi, menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), dan membantu warga mengurus dokumen kependudukan secara daring.

Perubahan serupa dialami banyak perempuan Cina Benteng di Desa Belimbing. Koperasi yang awalnya hanya beranggotakan 10 orang kini menghimpun lebih dari 300 anggota. Namun, bukan hanya tabungan dan usaha mereka yang tumbuh. Perempuan yang sebelumnya lebih banyak berkutat di rumah kini ikut mengusulkan program pembangunan, membantu warga mengakses layanan publik, serta terlibat dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Koperasi di Tengah Jeratan Utang

Kepala Desa Belimbing, H. Maskota, mengingat desanya masih tergolong daerah tertinggal pada 2007. Kehadiran pabrik-pabrik kemudian menggerakkan perekonomian warga, tetapi kemajuan itu tidak otomatis diikuti literasi keuangan yang memadai.

Desa Belimbing memiliki sekitar 2.372 warga Tionghoa. Sebagian besar warga bekerja sebagai pedagang dan buruh, dengan pendidikan umumnya hingga SMP. Menurut Maskota, banyak warga terjerat utang karena meminjam dari berbagai “bank” sekaligus—sebutan warga untuk bank keliling, lintah darat, dan pinjaman daring.

“Ada warga yang sampai menjual rumah senilai Rp250 juta untuk melunasi utang pinjol,” ujarnya dalam diskusi pada kunjungan media yang diselenggarakan Program Estungkara KEMITRAAN, mitra INKLUSI.

Sekretaris Desa Belimbing, Entang Yoga, mengatakan koperasi warga menjadi salah satu upaya menekan maraknya pinjaman ilegal yang beredar dengan berbagai kedok, termasuk yang mengatasnamakan koperasi. Namun, membangun koperasi bukan perkara mudah.

Ketika mulai mendampingi warga pada 2022, PPSW terlebih dahulu memetakan kebutuhan komunitas dan membangun kepercayaan melalui kelompok-kelompok kecil perempuan Cina Benteng. Calon anggota didatangi dan diyakinkan satu per satu. Sebagian bahkan baru bersedia bergabung setelah didekati selama dua tahun.

KWPS Lampion Merah Abadi akhirnya berdiri pada Agustus 2022. Anggota diwajibkan menabung setidaknya selama tiga bulan sebelum dapat mengajukan pinjaman. Simpanan pokok dibuat ringan dan bisa dicicil agar tidak memberatkan.

Ratna Wulan Devi alias Dewi mendata setoran anggota Koperasi Lampion Merah Abadi di Desa Belimbing, Kosambi, Tangerang, Banten, Kamis (20/8/2026). Koperasi Lampion Merah Abadi turut berperan dalam peningkatan kapasitas ekonomi sejumlah warga masyarakat desa Belimbing.
Ratna Wulan mendata setoran anggota Koperasi Lampion Merah.

Kini, koperasi memiliki sekitar 312 anggota dan mencatat omzet sekitar Rp449 juta. Pinjaman digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari modal usaha dan biaya sekolah anak hingga melunasi pinjaman daring. Selain memperoleh akses pembiayaan yang lebih aman, anggota juga mendapat pendampingan untuk mengembangkan usaha rumahan.

Bagi Chen Fie, memiliki penghasilan sendiri memberi perempuan ruang untuk memenuhi kebutuhannya tanpa selalu bergantung pada suami. “Minta suami beli bedak saja kadang susah sekali,” ujarnya.

Namun, PPSW menyadari bahwa pemberdayaan ekonomi tidak otomatis menghapus ketimpangan di rumah. Perempuan yang memiliki penghasilan sendiri masih dapat mengalami kekerasan atau memikul seluruh pekerjaan domestik. Karena itu, pertemuan koperasi juga menjadi ruang untuk membicarakan kesetaraan gender, berbagi pengalaman, dan belajar bernegosiasi dengan pasangan.

Pada masa awal pendampingan, ada suami yang menyusul istrinya ketika pertemuan berlangsung terlalu lama. Setelah melihat manfaat koperasi, sebagian mulai mendukung kegiatan istri dan berbagi tugas pengasuhan, misalnya menjemput anak ketika istri menghadiri pertemuan.

Tak Lagi Sekadar Penerima Layanan

Kegiatan koperasi kemudian berkembang melampaui urusan simpan pinjam. Sebelumnya, sebagian anggota bahkan tidak mengetahui cara mengurus KTP sendiri. Setelah mendapat pendampingan, mereka belajar mengakses layanan kependudukan secara daring.

Pengetahuan itu kemudian digunakan untuk membantu warga lain melalui layanan “Toktok Adminduk”. Pendampingan yang awalnya menyasar komunitas Cina Benteng pun meluas kepada seluruh warga desa. Perempuan yang sebelumnya kesulitan memperoleh layanan kini menjadi penghubung antara warga dan pemerintah.

Ratna Wulan Devi alias Dewi (kiri) dan Henny (kanan) bersiap mendata setoran anggota Koperasi Lampion Merah Abadi di Desa Belimbing, Kosambi, Tangerang, Banten, Kamis (20/8/2026). Koperasi Lampion Merah Abadi turut berperan dalam peningkatan kapasitas ekonomi sejumlah warga masyarakat desa Belimbing.
Ratna Wulan Devi alias Dewi (kiri) dan Henny (kanan) bersiap mendata setoran anggota Koperasi Lampion Merah Abadi di Desa Belimbing, Kosambi, Tangerang.

Melalui Forum Suara Perempuan, mereka juga mulai membawa persoalan sehari-hari—seperti UMKM, air bersih, dan sampah—ke Musrenbang. Mereka belajar mengumpulkan data, menyusun usulan, dan menyampaikannya kepada pemerintah desa. Kehadiran para perempuan perlahan mengubah ruang musyawarah yang sebelumnya didominasi laki-laki.

“Biasanya forum seperti ini isinya laki-laki. Sekarang ibu-ibu yang datang,” kata Ratna Wulan Devi atau Dewi, anak Chen Fie yang juga aktif dalam komunitas.

Peran mereka meluas ke pencegahan dan penanganan kekerasan. Para perempuan membentuk Balai Cerita Bunga Rampai, ruang aman bagi korban KDRT dan penelantaran yang sengaja ditempatkan terpisah dari rumah pribadi kader. Mereka bekerja sama dengan pemerintah desa dan kepolisian untuk mendampingi korban serta mendorong perempuan berani melaporkan kekerasan.

Sejak 2024, sekitar 116 kasus kekerasan telah tercatat. Menurut Dewi, banyak kasus akhirnya diselesaikan secara damai. Meski demikian, komunitas tetap mengawasi pelaku untuk mencegah kekerasan berulang.

Perubahan paling jelas tampak pada Chen Fie. Perempuan yang dahulu tidak tahu cara mengurus KTP kini membantu warga mendapatkan dokumen kependudukan. Ia yang sebelumnya pendiam dan jarang keluar rumah kini memimpin koperasi serta duduk bersama pemerintah dalam Musrenbang.

Oey Cin Wah dari komunitas Cina Benteng dengan kerajinan sulamannya sebelum pertemuan Koperasi Lampion Merah Abadi di Desa Belimbing, Kosambi, Tangerang, Banten, Rabu (19/8/2026). Oey Cin Wah juga menjadi bagian dari Koperasi Lampion Merah Abadi yang turut berperan dalam peningkatan kapasitas ekonomi sejumlah warga masyarakat desa Belimbing.
Oey Cin Wah dari komunitas Cina Benteng dengan kerajinan sulam.

Koperasi memberinya penghasilan, tetapi juga sesuatu yang tak kalah penting: komunitas, keberanian, dan ruang untuk bersuara. Kemampuan itu sebenarnya sudah lama dimiliki para perempuan Desa Belimbing. Organisasi, pengetahuan, dan dukungan membuat mereka berani menggunakannya.

Suara mereka pun tak lagi hanya terdengar di rumah atau ruang pertemuan koperasi. Kini, suara perempuan Cina Benteng telah sampai ke balai desa.

 

Icon Inklusi