{"id":9139,"date":"2026-03-25T14:14:55","date_gmt":"2026-03-25T07:14:55","guid":{"rendered":"https:\/\/inklusi.or.id\/?p=9139"},"modified":"2026-03-25T14:29:06","modified_gmt":"2026-03-25T07:29:06","slug":"bincang-inklusi-iwd-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/berita-cerita\/berita\/bincang-inklusi-iwd-2026\/","title":{"rendered":"Bincang INKLUSI: Perempuan Akar Rumput di Garis Depan Respons Bencana Inklusif"},"content":{"rendered":"<p><span data-contrast=\"auto\">Bencana tidak pernah dirasakan sama oleh semua orang. Dalam situasi banjir, perempuan dan anak perempuan kerap menghadapi beban yang lebih berat: kehilangan mata pencaharian, meningkatnya kerja perawatan, terbatasnya akses layanan dasar dan kesehatan, hingga risiko kekerasan berbasis gender. Kerentanan ini menjadi semakin tajam bagi perempuan penyandang disabilitas, perempuan adat, lansia, perempuan kepala keluarga, dan kelompok rentan lainnya. <\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Hal\u00a0inilah\u00a0yang\u00a0dibahas\u00a0dalam\u00a0<\/span>Bincang\u00a0INKLUSI<span data-contrast=\"auto\"> bertema &#8220;<\/span>Gerakan Perempuan Akar Rumput dalam Respons Bencana Inklusif&#8221; <span data-contrast=\"auto\">pada 13 Maret 2026, dalam rangka Hari Perempuan Internasional. Diskusi daring ini mempertemukan pengalaman komunitas, pendamping lapangan, pemerintahdan akademisi untuk melihat bagaimana respons bencana dapat lebih adil dan inklusif. <\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Dalam\u00a0sambutannya, Team Leader <a href=\"http:\/\/inklusi.or.id\">INKLUSI<\/a> Kate Shanahan\u00a0menegaskan\u00a0bahwa\u00a0perempuan\u00a0akar\u00a0rumput\u00a0bukan\u00a0hanya\u00a0pihak\u00a0yang\u00a0terdampak.\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">\u201cOrganisasi perempuan di\u00a0akar\u00a0rumput\u00a0aktif\u00a0menjangkau\u00a0kelompok\u00a0yang paling\u00a0membutuhkan\u00a0dan\u00a0mendampingi\u00a0pemulihan\u00a0sosial dan\u00a0ekonomi,\u201d\u00a0ujarnya.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Kisah itu terasa nyata dalam cerita Nurbaiti, staf lapang <a href=\"https:\/\/www.floweraceh.or.id\/\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">Flower Aceh<\/a> dan penyintas banjir beberapa bulan lalu dari Aceh Tamiang. Ia menceritakan bagaimana banjir bandang memaksanya berpindah tempat pengungsian tiga kali dalam satu malam, mengevakuasi anak kembarnya yang masih kecil, dan terpisah dari suami selama tiga hari tiga malam. Dalam situasi yang serba gelap dan terbatas, ia tetap memikirkan orang lain di pengungsian seperti lansia, orang sakit, dan kebutuhan yang sering dianggap kecil tetapi sangat penting. <\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cKami saling menguatkan. Ketika bencana, kita tidak bisa sendirian,\u201d kata Nurbaiti. <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Dari\u00a0pengalamannya,\u00a0terlihat\u00a0bahwa\u00a0solidaritas\u00a0komunitas\u00a0sering\u00a0menjadi\u00a0penyangga\u00a0pertama\u00a0ketika\u00a0sistem\u00a0formal\u00a0belum\u00a0mampu\u00a0menjangkau\u00a0semua\u00a0kebutuhan.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"Bincang INKLUSI: &quot;Gerakan Perempuan Akar Rumput dalam Respons Bencana Inklusif&quot; #IWD 2026\" width=\"800\" height=\"450\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/qs_EPnSOxTc?start=31&#038;feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<h3><b><span data-contrast=\"auto\">Bincang INKLUSI: Respons Inklusif Harus Dimulai dari Kebutuhan Nyata<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Dina\u00a0Lumban\u00a0Tobing,\u00a0Koordinator\u00a0<a href=\"https:\/\/konsorsiumpermampu.wordpress.com\/\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">PESADA\u00a0PERMAMPU<\/a>\u00a0menekankan\u00a0bahwa\u00a0langkah\u00a0pertama\u00a0yang\u00a0dilakukan\u00a0jaringannya\u00a0bukan\u00a0langsung\u00a0menyalurkan\u00a0bantuan,\u00a0melainkan\u00a0mengumpulkan\u00a0data\u00a0terpilah.\u00a0Menurutnya, perempuan\u00a0tidak\u00a0homogen,\u00a0sehingga\u00a0dampak\u00a0bencana\u00a0dan\u00a0kebutuhan\u00a0pemulihan\u00a0mereka\u00a0pun\u00a0berbeda-beda.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Ia\u00a0mencontohkan\u00a0bagaimana\u00a0di wilayah\u00a0dampingan\u00a0PERMAMPU, perempuan\u00a0tidak\u00a0hanya\u00a0kehilangan\u00a0rumah,\u00a0tetapi\u00a0juga\u00a0sumber\u00a0penghidupan,\u00a0akses\u00a0layanan\u00a0kesehatan, dan rasa\u00a0aman. Di Tapanuli Tengah,\u00a0persoalan\u00a0relokasi\u00a0bahkan\u00a0menyentuh\u00a0identitas\u00a0dan\u00a0ikatan\u00a0leluhur.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cIsu\u00a0desa\u00a0yang\u00a0hilang\u00a0tidak\u00a0sesederhana\u00a0itu. Tidak\u00a0semudah\u00a0itu\u00a0merelokasi,\u201d\u00a0ujar\u00a0Dina.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Ia juga\u00a0mengingatkan\u00a0bahwa\u00a0pemulihan\u00a0harus\u00a0memberi\u00a0ruang\u00a0bagi\u00a0perempuan\u00a0untuk\u00a0menentukan\u00a0kebutuhannya\u00a0sendiri,\u00a0bukan\u00a0sekadar\u00a0menerima\u00a0keputusan\u00a0dari\u00a0luar.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Menyoroti\u00a0disabilitas\u00a0psikososial\u00a0dan\u00a0hambatan\u00a0akses\u00a0dalam\u00a0situasi\u00a0bencana\u00a0Arnice\u00a0Ajawaila\u00a0dari\u00a0YAKKUM Emergency Unit,\u00a0mengatakan\u00a0stres,\u00a0kecemasan, dan rasa\u00a0tidak\u00a0berdaya\u00a0tidak\u00a0bisa\u00a0dipisahkan\u00a0dari\u00a0terputusnya\u00a0akses\u00a0terhadap\u00a0kebutuhan\u00a0dasar.\u00a0Namun\u00a0bantuan\u00a0sering\u00a0gagal\u00a0menjangkau\u00a0mereka\u00a0yang paling\u00a0membutuhkan\u00a0karena\u00a0data\u00a0tidak\u00a0tersedia\u00a0atau\u00a0tidak\u00a0mutakhir.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cRata-rata\u00a0tantangannya\u00a0adalah\u00a0keberadaan\u00a0mereka\u00a0yang\u00a0tidak\u00a0terdata. Stigma\u00a0masih\u00a0cukup\u00a0banyak. Data\u00a0tentang\u00a0mereka\u00a0tidak\u00a0ada\u00a0dalam\u00a0situasi\u00a0bencana,\u201d kata Arnice.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Ia\u00a0menegaskan\u00a0bahwa\u00a0bantuan\u00a0tidak\u00a0cukup\u00a0hanya\u00a0tersedia,\u00a0tetapi\u00a0juga\u00a0harus\u00a0aksesibel,\u00a0tepat\u00a0sasaran, dan\u00a0dibangun\u00a0dengan\u00a0dukungan\u00a0keluarga\u00a0serta\u00a0komunitas.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Dari sisi kebijakan, Dinar Dana Kharisma, Direktur Kemandirian Sosial dan Ekonomi dari Bappenas menekankan, program bantuan sosial dan pemberdayaan harus responsif terhadap kerentanan dan hambatan spesifik tiap kelompok. Ia mengingatkan bahwa kerentanan bukan kondisi yang statis. <\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cPemerintah harus responsif ketika dinamika terjadi\u2014cepat mengantisipasi, memberikan program yang sesuai, atau membangun kesiapsiagaan sejak awal,\u201d ujarnya sambil menambahkan bahwa meski data penting, tetapi kapasitas untuk menggunakan data itu dalam perencanaan kebijakan juga sama pentingnya. <\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sementara itu, Andi Misbahul Pratiwi, peneliti dari Pusat Riset Gender Universitas Indonesia, mengajak peserta melihat bahwa bencana bukan peristiwa yang netral. Bencana tidak menciptakan ketidakadilan itu\u2014tapi bencana memperparahnya, ujarnya. Ia menjelaskan bahwa sebelum, selama, dan sesudah bencana, kelompok berisiko tinggi sering kali hanya disebut sebagai \u201crentan\u201d tanpa sungguh dilibatkan dalam pengambilan keputusan. <\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cPendekatan kebencanaan yang inklusif harus membuka ruang aman, mendengar pengetahuan lokal, dan memastikan kelompok terdampak ikut menentukan arah pemulihan,\u201d ujar Andi.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Bincang\u00a0INKLUSI\u00a0ini\u00a0menegaskan\u00a0bahwa\u00a0perempuan\u00a0akar\u00a0rumput\u00a0bukan\u00a0sekadar\u00a0penyintas.\u00a0Mereka\u00a0adalah\u00a0penggerak\u00a0yang\u00a0menjaga\u00a0kehidupan\u00a0tetap\u00a0berjalan\u00a0di\u00a0tengah\u00a0krisis.\u00a0Tantangannya\u00a0sekarang\u00a0adalah\u00a0memastikan\u00a0pengalaman,\u00a0pengetahuan, dan\u00a0kepemimpinan\u00a0mereka\u00a0benar-benar\u00a0diakui\u00a0dan\u00a0ditopang\u00a0oleh\u00a0kebijakan,\u00a0layanan, dan\u00a0koordinasi\u00a0lintas\u00a0sektor\u00a0yang\u00a0responsif\u00a0gender,\u00a0disabilitas, dan inklusi sosial.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bencana tidak pernah dirasakan sama oleh semua orang. Dalam situasi banjir, perempuan dan anak perempuan kerap menghadapi beban yang lebih berat: kehilangan mata pencaharian, meningkatnya kerja perawatan, terbatasnya akses layanan dasar dan kesehatan, hingga risiko kekerasan berbasis gender. Kerentanan ini menjadi semakin tajam bagi perempuan penyandang disabilitas, perempuan adat, lansia, perempuan kepala keluarga, dan kelompok [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":9150,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[138],"tags":[],"class_list":["post-9139","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9139"}],"collection":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9139"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9139\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9143,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9139\/revisions\/9143"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9150"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9139"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9139"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}