{"id":12071,"date":"2026-08-18T14:04:02","date_gmt":"2026-08-18T07:04:02","guid":{"rendered":"https:\/\/inklusi.or.id\/?p=12071"},"modified":"2026-08-18T15:24:02","modified_gmt":"2026-08-18T08:24:02","slug":"perempuan-menentukan-arah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/berita-cerita\/cerita\/perempuan-menentukan-arah\/","title":{"rendered":"Ketika Perempuan Mbatakapidu Mulai Ikut Menentukan Arah Desa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Berbicara di depan banyak orang dulu bukan hal yang biasa bagi perempuan di Desa Mbatakapidu, Sumba Timur di Nusa Tenggara Timur. Dalam berbagai pertemuan, laki laki umumnya berada di depan dan berbicara, sementara perempuan lebih banyak mengambil peran di belakang: menyiapkan makanan, melayani tamu, dan mengurus rumah tangga.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<blockquote><p><strong>\u201cJujur, saya tidak biasa berbicara. Lihat orang saja gemetar,\u201d ujar Wilhelmina, salah seorang anggota Forum Perempuan Mbatakapidu. Ia mengingat bagaimana perempuan di desanya terbiasa berada di dapur dan mengurus anak, sementara laki-laki lebih sering berbicara dalam urusan masyarakat.\u00a0<\/strong><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Perlahan,\u00a0kebiasaan\u00a0itu\u00a0mulai\u00a0berubah.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Melalui pendampingan<a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/lembagabumilestari\/\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\"> Lembaga Bumi Lestari<\/a> (LBL), mitra Program <a href=\"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/tentang\/tentang-inklusi\/\">INKLUSI<\/a> di Sumba Timur, perempuan Mbatakapidu mendapat ruang untuk berkumpul, berdiskusi, dan membicarakan kebutuhan mereka sendiri. Forum Perempuan kemudian dibentuk dengan 15 anggota yang berasal dari lima dusun di desa tersebut.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-12203\" src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0357-300x200.jpg\" alt=\"Ibu Wilhemina duduk melingkar di forum diskusi terfokus, tangannya memegang sebuah buku kliping yang cukup tebal. Ia duduk dikelilingi warga desa lainnya. Berhadapan dengannya seorang perempuan menggunakan setelan kemeja dengan bawahan kain bercorak tradisional, rambutnya diikat ke atas menggunakan jepitan.\" width=\"1277\" height=\"852\" srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0357-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0357-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0357-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0357-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0357-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1277px) 100vw, 1277px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Ruang khusus itu menjadi penting karena hadir dalam sebuah pertemuan belum tentu berarti memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara. Menurut pendamping LBL, dalam forum yang diikuti laki laki dan perempuan, hanya perempuan tertentu yang biasanya berani menyampaikan pendapat. Namun, ketika perempuan berkumpul dalam forum sendiri, suasananya berbeda. Mereka justru lebih aktif berbicara, menyusun kebutuhan, dan menentukan apa yang ingin diperjuangkan.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">\u201cYang kami dorong adalah agar perempuan berani berbicara dan memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan mereka,\u201d ujar Fernandus Pala Amah, Koordinator Program LBL.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Bagi para anggota forum, perubahan itu terasa nyata.<\/p>\n<blockquote><p><strong>\u201cJadi kami tidak mengurus di belakang saja. Kami harus tampil ke depan untuk berbicara, mengungkapkan isi hati kami, apa keperluan kami sebagai perempuan,\u201d kata Naomi, salah seorang pengurus forum.<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><\/p><\/blockquote>\n<h4 style=\"text-align: left;\"><b><span data-contrast=\"auto\">Suara\u00a0Perempuan\u00a0Masuk\u00a0dalam\u00a0Perencanaan\u00a0Desa<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-12201 lazyload\" data-src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0406-300x200.jpg\" alt=\"Seorang perempuan Mbatakapidu menggunakan pakaian bergaya tradisional, dengan rambut yang disanggul licin rapih tersenyum lebar ke arah kamera.\" width=\"1270\" height=\"847\" data-srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0406-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0406-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0406-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0406-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0406-2048x1365.jpg 2048w\" data-sizes=\"(max-width: 1270px) 100vw, 1270px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1270px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1270\/847;\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Forum\u00a0Perempuan\u00a0sekaligus\u00a0menjadi\u00a0ruang\u00a0bagi\u00a0para\u00a0anggotanya\u00a0untuk\u00a0mempersiapkan\u00a0diri\u00a0sebelum\u00a0memasuki\u00a0forum\u00a0pembangunan\u00a0desa\u00a0yang\u00a0lebih\u00a0luas.\u00a0Mereka\u00a0membahas\u00a0usulan\u00a0bersama,\u00a0menentukan\u00a0prioritas,\u00a0lalu\u00a0memilih\u00a0perwakilan\u00a0untuk\u00a0menyampaikannya\u00a0dalam\u00a0Musyawarah\u00a0Perencanaan\u00a0Pembangunan\u00a0atau\u00a0Musrenbang.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Perempuan sebenarnya sudah dilibatkan dalam Musrenbang sebelumnya, antara lain melalui perwakilan PKK dan tokoh perempuan. Namun, dengan adanya Forum Perempuan, kini ada kelompok yang secara khusus membahas dan membawa aspirasi perempuan. Selain mengikuti Musrenbang Desa, mereka juga memiliki ruang Musrenbang Perempuan untuk lebih dahulu merumuskan kebutuhan bersama.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Sebagian usulan itu telah menghasilkan sesuatu yang nyata. Di antaranya bantuan bibit sayuran dan bawang untuk kelompok yang mengembangkan hortikultura, serta benang bagi kelompok penenun. Usulan yang disampaikan pada 2024 tersebut direalisasikan pada 2025.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Para perempuan juga membawa kebutuhan lain yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai pengurus Posyandu, misalnya, mereka pernah mengusulkan meja, alat tulis, timbangan, dan perlengkapan pendukung pelayanan kesehatan. Usulan itu diterima dan kebutuhan tersebut kemudian dipenuhi.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Namun,\u00a0tidak\u00a0semua\u00a0yang\u00a0mereka\u00a0perjuangkan\u00a0berupa\u00a0bantuan\u00a0barang.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Dalam Musrenbang, perempuan juga menyampaikan persoalan listrik dan jaringan telekomunikasi. Keduanya berkaitan langsung dengan kegiatan ekonomi mereka. Tanpa lisrik, waktu untuk menenun menjadi terbatas. Tanpa jaringan yang memadai, hasil kerajinan sulit dipasarkan dan komunikasi dengan calon pembeli menjadi lebih rumit.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-12205 aligncenter lazyload\" data-src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0418-300x200.jpg\" alt=\"-\" width=\"1291\" height=\"861\" data-srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0418-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0418-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0418-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0418-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG_0418-2048x1365.jpg 2048w\" data-sizes=\"(max-width: 1291px) 100vw, 1291px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1291px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1291\/861;\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Persoalan serupa dialami perempuan yang menanam sayuran. Mereka bercerita bahwa hasil kebun harus dibawa cukup jauh untuk dijual. Perjalanan yang memakan waktu membuat sayuran berisiko layu sebelum sampai ke pembeli. Dengan akses komunikasi yang lebih baik, mereka berharap dapat lebih mudah mencari pembeli dan mengatur pengiriman hasil kebun.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Keterlibatan perempuan juga berkembang di luar forum perencanaan. Dengan pendampingan LBL, mereka ikut membantu warga melengkapi dokumen administrasi kependudukan, seperti akta kelahiran, KTP, dan kartu keluarga, serta berhubungan dengan pemerintah desa dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Pengalaman itu membuat mereka semakin mengenal layanan pemerintah dan lebih percaya diri mengurus kebutuhan warga.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Perubahan\u00a0juga\u00a0terasa\u00a0di\u00a0rumah.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<blockquote><p><strong>Seusai mengikuti diskusi mengenai kesetaraan gender, para perempuan membawa percakapan itu pulang dan menceritakannya kepada suami serta anak-anak. Perlahan, pekerjaan yang sebelumnya dianggap sebagai tugas perempuan mulai dilakukan bersama. Ada suami yang mengambil air, membantu pekerjaan rumah, atau menyiapkan kebutuhannya sendiri. Wilhelmina mengatakan, bunga-bunga di pekarangan rumahnya justru ditanam oleh sang suami.\u00a0<\/strong><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Bagi\u00a0para\u00a0perempuan\u00a0ini,\u00a0perubahan\u00a0itu\u00a0bukan\u00a0tentang\u00a0membalik\u00a0posisi\u00a0perempuan\u00a0dan\u00a0laki-laki.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">\u201cBukan\u00a0berarti\u00a0suami\u00a0jatuh.\u00a0Tidak.\u00a0Supaya\u00a0setara\u00a0sedikit.\u00a0Ketika\u00a0suami\u00a0bisa\u00a0berbicara,\u00a0istri\u00a0juga\u00a0bisa,\u201d\u00a0kata\u00a0Naomi.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Perjalanan mereka masih panjang. Tidak semua usulan dalam Musrenbang telah terpenuhi. Perempuan Mbatakapidu masih berharap dapat mengembangkan usaha, meningkatkan keterampilan, memperoleh peralatan produksi, serta memperluas pemasaran hasil kebun dan kerajinan mereka.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span data-contrast=\"auto\">Namun,\u00a0sesuatu\u00a0yang\u00a0mendasar\u00a0telah\u00a0tumbuh:\u00a0kemampuan\u00a0untuk\u00a0mengenali\u00a0kebutuhan\u00a0sendiri,\u00a0membicarakannya\u00a0bersama,\u00a0dan\u00a0memperjuangkannya.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbicara di depan banyak orang dulu bukan hal yang biasa bagi perempuan di Desa Mbatakapidu, Sumba Timur di Nusa Tenggara Timur. Dalam berbagai pertemuan, laki laki umumnya berada di depan dan berbicara, sementara perempuan lebih banyak mengambil peran di belakang: menyiapkan makanan, melayani tamu, dan mengurus rumah tangga.\u00a0 \u201cJujur, saya tidak biasa berbicara. Lihat orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":12199,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[186],"tags":[],"class_list":["post-12071","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12071"}],"collection":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12071"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12071\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12210,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12071\/revisions\/12210"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12199"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12071"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12071"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12071"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}