{"id":10495,"date":"2026-06-30T13:57:19","date_gmt":"2026-06-30T06:57:19","guid":{"rendered":"https:\/\/inklusi.or.id\/?p=10495"},"modified":"2026-06-30T16:16:42","modified_gmt":"2026-06-30T09:16:42","slug":"sekolah-perempuan-kupang-tubuh-hak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/berita-cerita\/cerita\/sekolah-perempuan-kupang-tubuh-hak\/","title":{"rendered":"Di Bawah Pohon, Perempuan Kupang Belajar Menamai Tubuh dan Haknya"},"content":{"rendered":"<p><span data-contrast=\"auto\">Di bawah pohon di depan sebuah rumah di tepi jalan besar di Kupang, belasan perempuan duduk melingkar dan berdiskusi dengan santai. Di antara suara kendaraan yang melintas, mereka membicarakan hal-hal yang dulu jarang disebut terang-terangan: vagina, alat reproduksi, hak kesehatan seksual dan reproduksi, serta\u00a0ketabuan\u00a0yang membuat perempuan enggan bertanya tentang tubuhnya sendiri. Di ruang belajar yang jauh dari suasana kaku itu, menyebut bagian tubuh dengan benar menjadi langkah awal untuk memahami hak, mengenali kekerasan, dan berani mencari pertolongan.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Diskusi ini merupakan bagian dari Sekolah Perempuan yang difasilitasi <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/pekapm\/\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">PEKA-PM<\/a> (Perkumpulan Pendidikan Alternatif untuk Perempuan dan Masyarakat Marginal), mitra lokal Institut KAPAL Perempuan, salah satu mitra <a href=\"http:\/\/inklusi.or.id\">INKLUSI<\/a> di Nusa Tenggara Timur. Berbasis di Kabupaten Kupang, PEKA-PM berfokus pada pendidikan kritis, pemberdayaan perempuan, dan kesetaraan gender, serta mengadvokasi hak-hak dasar perempuan, kesehatan reproduksi, dan inklusi sosial.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sejak bekerja bersama KAPAL Perempuan pada Maret 2022, PEKA PM menjalankan pendidikan komunitas, penguatan kapasitas, pendampingan kelompok, serta membuka ruang aman bagi perempuan untuk belajar, berbicara, dan saling menguatkan.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Saat ini, PEKA PM mendampingi tujuh kelompok Sekolah Perempuan. Kegiatan mereka tidak berhenti pada diskusi rutin, tetapi juga mencakup Kelompok Belajar Berbasis Komunitas, pendampingan usaha kecil, pelatihan kepemimpinan, hingga pos pengaduan bagi perempuan yang menghadapi persoalan identitas hukum, kekerasan, dan berbagai bentuk diskriminasi.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_10503\" aria-describedby=\"caption-attachment-10503\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-10503 size-large\" src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-62-1024x683.jpg\" alt=\"Yerni Hariance dari PEKA PM memberikan materi mengenai hak kesehatan reproduksi dan seksual untuk para anggota Sekolah Perempuan di Kupang.\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-62-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-62-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-62-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-62-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-62-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10503\" class=\"wp-caption-text\">Yerni Hariance dari PEKA PM memberikan materi mengenai hak kesehatan reproduksi dan seksual untuk para anggota Sekolah Perempuan di Kupang.<\/figcaption><\/figure>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cInsentif kami bukan ijazah, tetapi belajar sepanjang hayat,\u201d kata Yerni\u00a0Hariance, Wakil Direktur sekaligus Koordinator Program PEKA PM. Menurutnya, banyak perempuan yang selama ini dibatasi ruang geraknya oleh anggapan bahwa tugas mereka hanya di rumah: memasak, mencuci, mengurus suami, dan mengurus keluarga. Melalui Sekolah Perempuan, ruang itu mulai melebar.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cDulu kami disuruh di rumah terus. Sekarang perempuan bisa ikut\u00a0musrenbang, bertemu bupati, dan menyuarakan kebutuhan mereka,\u201d ujarnya.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<h3><b><span data-contrast=\"auto\">Sekolah Perempuan: Dari Ruang Belajar ke Ruang Keputusan<\/span><\/b><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/h3>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Perubahan itu terasa nyata di Desa Tanah Merah, Kabupaten Kupang. Di desa ini, perempuan yang sebelumnya ragu berbicara kini mulai terlibat dalam musyawarah dusun dan musyawarah perencanaan pembangunan. Partisipasi perempuan tidak lagi sekadar formalitas. Mereka hadir, menyampaikan usulan, dan ikut memastikan kebutuhan perempuan masuk dalam perencanaan desa.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Marini, Kepala Dusun 1 Desa Tanah Merah, adalah salah satu perempuan yang tumbuh bersama Sekolah Perempuan. Awalnya, ia direkrut setelah ibu RT datang ke rumah dan mengajaknya bergabung. Di Sekolah Perempuan, ia belajar tentang kepemimpinan dan keberanian menyampaikan pendapat.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cDi\u00a0musrenbang\u00a0biasanya laki-laki yang dominan. Setelah ikut Sekolah Perempuan, saya jadi berani berbicara. Pendapat kami mulai didengar,\u201d katanya.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-10511 aligncenter\" src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-68-1024x683.jpg\" alt=\"Anggota Sekolah Perempuan di Kupang.\" width=\"800\" height=\"534\" srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-68-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-68-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-68-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-68-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-68-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Usulan perempuan pun mulai masuk dalam kebijakan dan dukungan desa, termasuk modal usaha untuk kelompok perempuan. Di Tanah Merah, terdapat lima kelompok perempuan yang masing-masing mendapat dukungan modal sebesar Rp15 juta. Selain itu, perempuan juga terlibat dalam pendataan warga, termasuk perempuan kepala keluarga dan warga yang masih menghadapi hambatan\u00a0literasi.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Bagi sebagian peserta, perubahan paling besar justru terjadi di dalam diri.\u00a0Getreda, salah satu anggota Sekolah Perempuan yang kini terpilih menjadi RT, mengatakan ia mulai memahami isu gender, hukum, dan hak perempuan. Pengetahuan itu membantunya merespons kasus kekerasan di sekitar rumahnya, termasuk kekerasan dalam pacaran.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cSekarang saya mengerti apa yang harus dilakukan kalau ada kekerasan. Saya bangga bisa membantu mencegah kekerasan dan mengedukasi perempuan lain,\u201d ujarnya.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Sementara itu, Venny mengingat bagaimana ia awalnya menolak ikut Sekolah Perempuan. \u201cSaya pikir, sudah tua, pegang buku untuk apa?\u201d katanya. Namun rasa penasaran membuatnya datang. Dari ruang belajar itu, ia menyadari bahwa ketakutan dan ketidaktahuan selama ini membuatnya sulit mengambil keputusan, termasuk dalam rumah tangga. Setelah mengalami KDRT, ia akhirnya memberanikan diri menggugat ke pengadilan.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Bagi para perempuan ini, Sekolah Perempuan bukan hanya tempat belajar modul. Ia menjadi ruang untuk menamai pengalaman yang selama ini dianggap aib, dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, hingga beban kerja domestik yang tidak setara. PEKA PM juga membuka pos pengaduan sejak 2022, yang telah membantu perempuan mengakses layanan, terutama terkait identitas hukum dan penanganan kekerasan.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-10507 aligncenter\" src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-45-1024x683.jpg\" alt=\"Anggota Sekolah Perempuan di Kupang.\" width=\"800\" height=\"534\" srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-45-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-45-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-45-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-45-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-45-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Yerni menyebut, sebagian perempuan yang didampingi menghadapi tantangan berlapis: putus sekolah, buta huruf, keterbatasan bahasa Indonesia, pengalaman sebagai warga eks pengungsi, hingga\u00a0disabilitas. Karena itu, proses belajar tidak bisa seragam.\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cAda yang perlu waktu lebih lama. Kadang kami sisihkan 10 sampai 15 menit khusus agar mereka bisa mengikuti,\u201d katanya.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Namun dari proses yang perlahan itu, perubahan tumbuh. Perempuan yang dulu diam mulai bertanya. Yang dulu takut menyebut kekerasan kini berani melapor. Yang dulu hanya dianggap mengurus rumah kini duduk dalam forum desa.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Di bawah pohon di Kupang, percakapan tentang tubuh dan hak terus mengalir. Bagi mereka, menyebut kata \u201cvagina\u201d tanpa malu adalah bagian dari perjalanan yang lebih besar: perjalanan untuk mengenali diri, saling melindungi, dan hadir dalam ruang-ruang keputusan yang selama ini terlalu lama tidak mendengar suara perempuan.<\/span><span data-ccp-props=\"{}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-10519 aligncenter\" src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-31-1024x683.jpg\" alt=\"Para anggota Sekolah Perempuan di Kupang.\" width=\"800\" height=\"534\" srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-31-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-31-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-31-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-31-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-31-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di bawah pohon di depan sebuah rumah di tepi jalan besar di Kupang, belasan perempuan duduk melingkar dan berdiskusi dengan santai. Di antara suara kendaraan yang melintas, mereka membicarakan hal-hal yang dulu jarang disebut terang-terangan: vagina, alat reproduksi, hak kesehatan seksual dan reproduksi, serta\u00a0ketabuan\u00a0yang membuat perempuan enggan bertanya tentang tubuhnya sendiri. Di ruang belajar yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":10499,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[186],"tags":[],"class_list":["post-10495","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10495"}],"collection":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10495"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10495\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10534,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10495\/revisions\/10534"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10499"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10495"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10495"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10495"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}