{"id":10400,"date":"2026-06-22T10:00:47","date_gmt":"2026-06-22T03:00:47","guid":{"rendered":"https:\/\/inklusi.or.id\/?p=10400"},"modified":"2026-06-22T16:31:19","modified_gmt":"2026-06-22T09:31:19","slug":"yerni-hariance-dan-jalan-panjang-mendampingi-perempuan-kupang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/berita-cerita\/cerita\/yerni-hariance-dan-jalan-panjang-mendampingi-perempuan-kupang\/","title":{"rendered":"Yerni Hariance dan Jalan Panjang Mendampingi Perempuan Kupang"},"content":{"rendered":"<p>Saat bercerita tentang perempuan-perempuan yang ia dampingi, suara Yerni Hariance sempat tercekat. Matanya berkaca-kaca ketika mengingat berbagai pengalaman kekerasan yang selama ini ia dengar dan dampingi di Kupang dan sekitarnya.<\/p>\n<p>Yerni adalah Wakil Direktur sekaligus Koordinator Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga\u2013Perempuan Mandiri (PEKA PM), organisasi masyarakat sipil di Kupang yang bekerja untuk pemberdayaan perempuan akar rumput, perempuan kepala keluarga, dan kelompok marginal.<\/p>\n<p>Bagi Yerni, kerja pendampingan bukan sekadar menjalankan program. Di dalamnya ada cerita perempuan yang lama diam karena takut, malu, atau menganggap kekerasan sebagai bagian dari nasib. Ada warga yang tidak memiliki dokumen kependudukan. Ada perempuan yang tidak berani keluar rumah, atau\u00a0 penyandang disabilitas yang disembunyikan keluarganya. Ada pula penyintas kekerasan yang harus menempuh proses hukum yang panjang, mahal, dan melelahkan.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKekerasan itu seperti monster yang menakutkan,\u201d kata Yerni. Namun justru karena itulah ia tetap bertahan.<\/p><\/blockquote>\n<p>Yerni bukan orang baru dalam kerja komunitas. Sebelum bergabung dengan PEKA PM, ia pernah menjadi kader di Noelbaki, salah satu wilayah tempat komunitas eks pengungsi Timor Leste tinggal. Ia masuk ke kamp, mengajar baca tulis, dan mendampingi warga yang menghadapi berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan identitas hukum.<\/p>\n<figure id=\"attachment_10407\" aria-describedby=\"caption-attachment-10407\" style=\"width: 800px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-10407 size-large\" src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-69-1024x683.jpg\" alt=\"-\" width=\"800\" height=\"534\" srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-69-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-69-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-69-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-69-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-69-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10407\" class=\"wp-caption-text\">Yerni membagikan materi tentang gender kepada anggota Sekolah Perempuan.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Di lapangan, Yerni belajar bahwa kemiskinan, ketimpangan gender, disabilitas, trauma, dan diskriminasi sering saling bertumpuk. Sebagian perempuan yang ia temui tidak lancar berbahasa Indonesia. Sebagian lain putus sekolah atau tidak bisa membaca. Dalam situasi seperti itu, pendekatan pendampingan tidak bisa seragam.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cDi lapangan, kami belajar mendengar dulu. Tidak semua perempuan bisa langsung bercerita, apalagi kalau selama ini mereka merasa pengalaman mereka adalah aib,\u201d ujarnya.<\/p><\/blockquote>\n<p>PEKA PM sendiri tumbuh dari kerja-kerja komunitas yang sederhana. Pada awalnya, lembaga ini bekerja di ruang terbuka, belum memiliki bangunan, dan banyak membantu warga pengungsi dengan kebutuhan dasar seperti seng dan beras. Kini, PEKA PM memiliki lima staf, termasuk direktur, dan sejak Maret 2022 bekerja bersama Institut KAPAL Perempuan, mitra INKLUSI, untuk memperkuat kepemimpinan perempuan, membangun Sekolah Perempuan, membuka ruang belajar komunitas, serta mendampingi isu kekerasan, identitas hukum, dan pemberdayaan ekonomi.<\/p>\n<figure id=\"attachment_10428\" aria-describedby=\"caption-attachment-10428\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-10428 size-large\" src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-56-1024x683.jpg\" alt=\"-\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-56-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-56-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-56-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-56-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-56-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10428\" class=\"wp-caption-text\">Peserta mencatat materi pembelajaran Sekolah Perempuan.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Bagi Yerni, inti dari kerja itu adalah mengembalikan kepercayaan diri perempuan.<\/p>\n<p>\u201cPerempuan kalau tidak berani, nanti diinjak,\u201d katanya. \u201cKepercayaan diri itu yang membuat kita bisa melawan.\u201d<\/p>\n<p><strong>Menempuh Jalan yang Tertunda<\/strong><\/p>\n<p>Kepercayaan diri itu juga tumbuh dari pengalaman hidup Yerni sendiri. Ia pernah menunda pendidikan tinggi karena kesempatan kuliah diberikan kepada adik-adiknya. Sebagai anak yang lebih tua, ia menerima bahwa jatah kuliah saat itu bukan untuk dirinya.<\/p>\n<p>Bertahun-tahun kemudian, setelah melewati banyak fase hidup, termasuk menjadi ibu tunggal, Yerni kembali membuka jalan bagi dirinya sendiri. Menjelang usia 50 tahun, ia akhirnya menempuh pendidikan S1 di Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.<\/p>\n<p>Keputusan itu bukan hal kecil. Di usia ketika banyak orang menganggap masa belajar sudah lewat, Yerni justru kembali menjadi mahasiswa. Ia menyelesaikan kuliahnya, lalu terus belajar melalui berbagai pelatihan, termasuk pelatihan pendampingan hukum dan hak asasi manusia. Kini, ia telah memiliki kartu pendamping paralegal.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cSaya dulu hanya lulusan SMA karena kesempatan kuliah diberikan untuk adik-adik. Tapi ternyata tidak ada kata terlambat untuk kembali belajar,\u201d ujar Yerni.<\/p><\/blockquote>\n<figure id=\"attachment_10403\" aria-describedby=\"caption-attachment-10403\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-10403 size-large\" style=\"font-style: normal;\" src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-47-1-1024x683.jpg\" alt=\"-\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-47-1-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-47-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-47-1-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-47-1-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-47-1-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10403\" class=\"wp-caption-text\">Anggota Sekolah Perempuan sedang menyimak materi.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Kalimat itu sering ia gunakan ketika mendampingi perempuan lain. Menurutnya, banyak perempuan tumbuh dengan pesan yang membatasi: perempuan tidak perlu sekolah tinggi, perempuan cukup mengurus rumah, perempuan harus diam, perempuan tidak usah banyak bicara. Bahkan ketika perempuan sudah berkeluarga, ruang geraknya kerap dipersempit oleh beban domestik yang dianggap semata-mata tanggung jawab mereka.<\/p>\n<p>Yerni menolak pandangan itu. Ia melihat sendiri bagaimana perempuan berubah ketika diberi ruang belajar. Perempuan yang awalnya takut bicara mulai berani menyampaikan pendapat. Ibu-ibu yang semula tidak memahami haknya mulai berani bertanya. Isti-istri yang dulu hanya dianggap bertugas mengurus rumah kini hadir dalam musyawarah dusun, musrenbang, bahkan bertemu pemerintah daerah.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cSaya sangat bangga ketika perempuan bisa ikut musrenbang. Di Kupang, perempuan masih sering dianggap bodoh. Kami ingin tidak ada lagi stereotip seperti itu,\u201d katanya.<\/p><\/blockquote>\n<p>Melalui kerja PEKA PM bersama KAPAL Perempuan, yang didukung oleh INKLUSI, Yerni ikut mendampingi tujuh kelompok Sekolah Perempuan. Sejak 2022, PEKA PM telah menjangkau 875 perempuan. Di Desa Tanah Merah, pos pengaduan yang dibuka sejak 2022 juga telah membantu lebih dari 3.000 perempuan mengakses layanan, terutama terkait identitas hukum dan penanganan kekerasan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_10418\" aria-describedby=\"caption-attachment-10418\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-10418 size-large\" src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-41-1024x683.jpg\" alt=\"-\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-41-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-41-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-41-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-41-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-41-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10418\" class=\"wp-caption-text\">Diskusi kelompok Sekolah Perempuan.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Namun angka-angka itu, bagi Yerni, tidak pernah sekadar capaian program. Di balik setiap angka ada wajah, nama, dan cerita. Mereka yang akhirnya memiliki dokumen kependudukan, penyintas yang berani melapor, atau \u00a0perempuan desa yang terpilih menjadi kepala dusun, anggota BPD, atau ketua RT.<\/p>\n<p>Dalam kerja pendampingan, Yerni juga kerap menghadapi ancaman dan intimidasi.<\/p>\n<p>\u201cSaya pernah diancam, \u2018Saya potong ibu, saya bunuh.\u2019 Itu bisa terjadi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Tetapi pengalaman itu tidak membuatnya mundur. Ia tahu, bagi banyak perempuan, keberadaan pendamping bisa menjadi pembeda antara terus diam atau mulai mencari keadilan.<\/p>\n<p>Yerni percaya perubahan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Kadang ia bermula dari perempuan yang berani bicara di forum desa. Dari ibu yang kembali belajar membaca. Dari keluarga yang pelan-pelan membuka diri terhadap anggota keluarga penyandang disabilitas. Dari penyintas yang akhirnya tahu bahwa kekerasan bukan aib, dan tidak harus ditanggung sendiri.<\/p>\n<figure id=\"attachment_10422\" aria-describedby=\"caption-attachment-10422\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-10422 size-large\" src=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-72-1024x683.jpg\" alt=\"-\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-72-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-72-300x200.jpg 300w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-72-768x512.jpg 768w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-72-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/inklusi.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/DAY1-INKLUSI-72-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10422\" class=\"wp-caption-text\">Foto bersama anggota Sekolah Perempuan di Kupang.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Di Kupang, Yerni terus berjalan bersama perempuan-perempuan yang dulu dianggap tidak punya suara. Ia melihat bagaimana ruang belajar dan pendampingan dapat mengubah cara perempuan memandang dirinya sendiri.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKalau ada kepemimpinan perempuan, semua jadi hidup,\u201d kata Yerni. \u201cPerempuan itu pemimpin peradaban.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat bercerita tentang perempuan-perempuan yang ia dampingi, suara Yerni Hariance sempat tercekat. Matanya berkaca-kaca ketika mengingat berbagai pengalaman kekerasan yang selama ini ia dengar dan dampingi di Kupang dan sekitarnya. Yerni adalah Wakil Direktur sekaligus Koordinator Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga\u2013Perempuan Mandiri (PEKA PM), organisasi masyarakat sipil di Kupang yang bekerja untuk pemberdayaan perempuan akar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":10457,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[186],"tags":[],"class_list":["post-10400","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10400"}],"collection":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10400"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10400\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10467,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10400\/revisions\/10467"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10457"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10400"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10400"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/inklusi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10400"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}